Monday, December 3, 2007

Good things come to those who wait

Love
Lust
Romance
Feelings
Sweetness

Good things come to those who wait

In the midst of early summer, Love has found and struck me numb
I breath in his smell in my lungs

Sweet November hammered my brain
It is in his arm that I belonged

Somehow he seemed too good to be true
My spoilt Prince, twist me around.

Sweet as honey
November is here to stay
My handsome God of War with a heart of Eros
More than Perfect

More than everything

Sunday, October 21, 2007

For the very best friend come a very best wishes



Two days ago, my best friend Meli had her birthday. I wont hide the fact that I forgot her birthday, nor wont I hide the fact that this flower was from Yahoo News (Under the headlines of "Couple files lawsuit against their florist on the wedding day.)
Tapi nenek,

Have a happy belated birthday Meli!!
I'm you're friend forever and always and that's a promise


Maaf ya, tahun ini tidak ada hadiah, tidak ada canda tawa dari gue.
Tapi yang jelas ada doa tulus dari hati.

May everything that you wished for will come true

Saturday, September 29, 2007

100% saline

Courtesy of AJ.

Yahh, buat yg suka pake contanct lens, pasti tau donk saline itu apaan? Saline alias cairan pembersih lensa plus buat rendem lensa overnight juga.

AJ temen gue anak bio-cem lumayan kaget karena sebulannya gue harus bayar sekitar $30 sebulan buat beli saline. AJ bilang saline itu sebenernya sama aja kaya air mata. Dan dia jelasin lagi air mata itu sama aja kaya air dan garam. Intinya dia bilang ama gue, daripada beli Saline mendingan bikin saline sendiri...yaitu dengan mencampur air sama garam.

Mengikuti sarannya AJ, gue coba ambil botol air minum kosong, isi dengan garam dan air. Dan wahh ternyata berhasil....gue bisa rendem contact lens gue tanpa harus beli saline atau cairan pembersih contact lens di toko! Jadi sekarang gue bisa save $$$!

Yah jadi buat para pemakai contact lens...bisa dicoba nih, semoga bisa buat hemat biaya ga penting. Yah kalo gue sih takaran garamnya 3 sendok teh dan airnya 750ml. Oh yah abis direndem semaleman, kalo mau pake soft lensnya dibilas dulu dengan air bersih, kalau nggak rada perih (yah sama aja kaya kalo buka mata di laut).

Cheers AJ!! You're the best :P

Tuesday, September 18, 2007

Cynical Mood

Truth
"There are no truth, only interpretation." ~ Nietczhe


Betul. Kebenaran. Apa itu kebenaran? Buang-buang waktu saja mencari kebenaran. Mencari siapa diriku, siapa dirinya, siapa diri dari orang-orang. Buat apa? Orang-orang percaya dengan apa yang mereka mau percaya. Mereka pikir mereka begini, mereka begitu. Beri mereka lingkungan baru, teman baru, buku baru, musik baru, berita baru. Dalam sekejap, mereka tidak tahu lagi siapa dirinya. Ah begitu mudahnya terpetak dengan apa yang selama ini kamu percaya. Mari kita taruhan, kamu akan menjadi orang berbeda pada situasi mendesak. Disitulah terletak siapa kamu sebenarnya. Bodoh. Apa itu kebenaran. Sadarlah.


"People have a bias opinion towards themselves." ~ Freud.


Kamu pikir kamu pintar? Hanya karena kamu tahu sedikit tentang sesuatu. Apakah itu membolehkan kamu untuk menghabiskan waktuku, dengan semua cerita yang kamu baca dari buku? Tidakkah kamu tahu, bahwa aku, sudah membaca buku itu. Kemana saja kamu?


Kamu pikir kamu yang paling malang? Dan tidak ada satupun orang yang mengerti penderitaan kamu? Bangunlah, sadarlah. Hanya karena aku tidak pernah bercerita tentang kemalanganku bukan berarti kamu bisa menghabiskan waktuku mendengarkan ocehan-ocehan negatifmu. Kamu mau tahu pendapatku? Menurutku kamu sangat menyedihkan. Menurutku kamu ingin dikasihani. Menurutku kamu manja. Dunia ini memang tidak adil. Terbiasalah dengan itu. Masih banyak anak-anak kelaparan di Afrika. Penderita-penderita penyakit genetik yang tidak pernah mengeluh. Apa ini? Kamu berceloteh tentang cerita cintamu, sudahlah simpan saja dukamu itu. Aku tidak punya waktu.


Kamu pikir kamu lucu? Untuk apa kamu menceritakan cerita-cerita "lucu" itu? Sangat tidak berkelas dan hambar. Kenapa kamu terdiam? Apakah kamu membiarkan jeda dalam percakapanmu untuk membiarkan aku tertawa? Aku pernah bertemu dengan orang yang lebih lucu daripada kamu. Sudahlah, kamu buang-buang waktu saja.


Maafkan. Bukannya aku angkuh karena tak menyapamu tadi. Aku tahu ada kamu. Aku melihatmu. Dan akupun melihatmu yang melihat diriku. Aku sebenarnya ingin menyapamu. Tapi aku ingat betapa kamu suka sekali menghabiskan waktuku, maka itu aku pura-pura tidak melihat. Tapi tenanglah. Kau bukan yang terbodoh, yang terbodoh sebenarnya adalah aku. Karena aku, baru menyadari siapa kamu yang sebenarnya sekarang. Akulah yang membiarkanmu menghabiskan waktuku.

Busted!

"Soo what kinda music d'you like?"

Adalah salah satu pertanyaan random kalao gue lagi ketemu stranger-stranger aneh di kedai kopi kampus, perpustakaan umum CBD atau London Bar di Queen Street.

Pertanyaan itu biasanya gue lanjutkan dengan,

"My ears are pretty adaptable to any kind of music, but Alternatives, Progressive, and Nu Jazz can make my heart beat faster."

Dan sahabat-sahabat gue disini juga udah tau, mau invite gue ke gigs macam apa...Panic At the Disco boleh lah...waktu itu dapet tiket gratis. Golden Horse juga murah. Waktu itu sempet nonton konser barunya Gun's n Roses juga sih yang tour terbaru Chinese Democracy...tiketnya sempet bikin bangkrut juga...trus Linkin Park juga bulan depan mau dateng. Untung tiket udah dibeli...tinggal ngantri masuk. Drum&Bass kaya Shapeshifter atau Pendulum juga enak.

Yah intinya...dengan "ide musik favorit" semacam itu...gue....pun...ditangkap basah oleh teman gue yang kebetulan punya kunci rumah jadi dia bisa masuk se-enak jidatnya.

Lagi enak-enak menikmati variasi musik di luar "musik favorit" gue.....pintu kamar gue terbuka...si geblek pun berdiri sambil cengar-cengir....

"Ooh...drum and bass mai? progressive mai? Ngapain lo dengerin Jay Chow?"

Shit...shite...shitakeeeee....shin ramyun!!!

"Ohh ini...lagi research doank kok..."

"Ho-ho-ho...research...hmm...research Jay Chow." Si geblek ketawa-ketawa ngakak sambil guling-gulingan. Rese.

So Busted!

Ode to my friends

Spring, 2007.
Pembukaan yang terlalu romantis buat blog kali ini. Cih.
Lagi enak-enaknya bengong, pikiran gue yang sok penasaran dan suka bertanya-tanya kali ini mengungkapkan salah satu pertanyaan teraneh untuk diri gue sendiri.


Pertanyaannya...Kenapa temen-temen gue aneh?
Temenan udah lebih dari sepuluh tahun tapi kok baru tahun ke sepuluh ini gue bertanya yah..
Kalo ngomong soal aneh, pasti ga ada yang berani berargumen bahwa Gita menduduki peringkat pertama, hmm...kilas balik...seinget gue, gue pertama kali kenalan ama Gita pas pelajaran agama pas SD. Duluuu sekali, Gita termasuk orang-orang cool di sekolahan, Gita dulu tinggi banget seinget gue.

Udah gitu temenan sama Sylvia, yang gak kalah tingginya. Gita juga murid teladan sih seinget gue, larinya cepet, trus suka volunteer jadi pembawa bendera, yang pada akhirnya menurut kepala sekolah under-utilised. Soalnya bacot gita lumayan kenceng makanya dia dijadiin pemimpin upacara.
Tulisannya rapih, terus kalo disuruh ringkas buku bacaan, ringkasannya gita padat, jelas trus enak diliat. Membuat gue suka berteman sama gita soalnya gue bisa pinjem buku catetannya tanpa harus ngebaca buku asli. Sip deh.


Um terus tu anak naif banget, gampang dikerjain ama dikibulin. Hari-hari sore sehabis pulang sekolah yang penuh kebosanan gue isi dengan menelpon gita dan berpura-pura menjadi Chester Cheetah. Parahnya tu anak percaya lagi, yang nelpon dia itu Chester Cheetah...bukan gue. Dan hari-hari penuh kebohongan berlanjut sampe sekitar 2 bulanan, tu anak, gak bakal ngeh kalo gue gak buka kedok gue sendiri. Yah itu poin ke dua kenapa gue suka temenan ama gita...jadi bahan hiburan ehehehehehe.


Gita juga anaknya baek banget. Gue inget dulu pas kita kecelakan Bus pas lagi ke Bali, gue masih rada shock kalo bus kita baru aja nabrak truk...tapi Gita dengan telaten bersihiin luka gue dan beliin gue minuman.


Sejauh ini masih normal.


Keanehan bermula di Bali, Gita....suka banget ke Hardrock Cafe...dansa sampe itu tempat tutup, dan diusir dan menorehkan coreng di muka anak-anak. Kegilaan itu berlanjut sampe ke Jakarta. Yah...masih bisa ditoleransi.


Keanehan gita yang ke dua...ehm...siapa sih yang suka jalan2 di Gading bertelanjang kaki? No comment.



Keanehan gita yang ke 3..."Git, kakak gue ada bokep baru segepok, mau pinjem?"
Mata gita biasanya jadi bulat penuh, pupil matanya yang coklat jadi tambah gede...melotot, dan menarik nafas...."Haaahh.....Mauk!!"


Bukan cuma itu, gita bisa tinggal di rumah, berminggu-minggu ga ada kabar...cuma tidur...dan nonton bokep. Hemmm....


Keanehan gita yang 4...Dari kabar burung terdengar bahwa gita janjian kopi darat ama temen2 chatnya di; a. Smoking room kelapa gading, b. Stasiun bus. Oh iya salah satu date favoritnya adalah makan rujak di tepi kolam renang. Jangan salah, rujaknya bukan rujak beli di abang2...tapi bikin sendiri.


Yaah masih banyaklah keanehan gita yang gak mungkin gue list semua di blog ini.


Berlanjut ke nenek...
Nenek dari dulu kurus...tinggi dan berkacamata. Dulu gue gak tau kenapa tu anak masuk sekolah, sumpah deh, dari jam 7 pagi masuk sampe jam 12.30...tu anak kerjaannya gambar cewek, bikin komik, makan, nyontekin kerjaan orang, sama ketawa-ketawa bodoh. Tiap kali gue ngeliat nenek, ada dorongan kuat untuk menganiaya dia. Mukanya kasian sih...(minta dibully).


Tapi gue mulai serius berpikiran untuk berteman sama nenek karena koleksi komiknya bener2 banyak. Jaman dulu gue cuma punya komik doraemon...dan nenek mengenalkan gue pada serial cantik dan misteri (Uaahh...senangnya). Trus kesantai-an nenek dalam belajar membuat dia satu-satunya anak yang punya banyak waktu senggang buat diajak pergi ke perpustakaan narada...(buat apa lagi kalo bukan baca komik)...trus hari-hari panas terik biasanya kita habiskan dengan baca komik berjam-jam di narada, puter-puter vihara, trus makan sate kalo gak pecel lele. Dari yang pulang jam 5 sore...molor ampe jam 9 malem. Gue inget dulu kayanya almarhum nyokapnya nenek sempet marah gara-gara kita pulangnya kemaleman (Ya elo enak pulang naik kijang nek, gue pake sepeda merah...ada keranjangnya lagi...aib)


Seinget gue nenek dari dulu dah punya simptom simptom aneh sih, contohnya suka ngemil bengkoang ama timun...bukan cuma satu...bisa sekilo.
Trus pas masih SD nenek suka pake sepatu tanpa kaos kaki...alasannya panas.


Tiap kali gue pulang ke Indo, nenek makin aneh aja...jadi melankolis...trus suka monolog sama diri sendiri. Gue berusaha meyakinkan diri gue bahwa itu adalah salah satu keunikan temen gue dan menutup sebelah mata pada kemungkinan-kemungkinan.


Lisa
Gue kenal lisa jauh sebelom gue kenal anak-anak lain. Dari tk kayanya. Dari main polisi maling, petak umpet...sampe ketemu lagi pas smp buat main basket di tim sekolahan. Lisa anaknya preman dan garang. Kenapa gue bertemen ama dia? Ya buat apa lagi kalo bukan cari perlindungan uhehehehehe. Trus anaknya juga doyan bolos ke kantin...jadi gue ada temen deh kalo lagi ngidam makanan.

Trus gue juga jadi korban kebosanannya lisa sih. Kalo dia lagi bosen, sore-sore dia main ke rumah gue, minta ditemenin ngerokok di taman umum. (Buset cewek kok kelakuannya....) Trus kita makan bakwan yang suka lewat sore-sore. Lisa juga demen sih berdialog sama burung tekukurnya nyokap gue. Entah rahasia apa yang mereka berdua bicarakan.
Pas lisa lagi early crisis...semuanya berubah, dia jadi romantis, melankolis...suka bicara ama bulan sampe subuh. Bikin lagu-lagu manis tapi sedih dari gitarnya. Oh trus tu anak sempet religius abis...bicara soal karma, reinkarnasi dan hal-hal sensitif tentang agama yang membuat gue bergidik dan tak nyaman (beginilah kalo orang takut mati).


Lisa ama nenek punya kesamaan. Mereka seneng berenang-renang di danau yang hitam kelam. (Metaphor buat semua hal-hal melankolis dan berbau sedih). Gue gak ikutaan aaah...


Sofi

Gue kenal sofi pas SD. Anak baru, kalem, terus pinternya seamit-amit. Beda ama anak-anak pinter lainnya...sofi rendah hati dan pemurah. (Suka kasih contekan PR). Sofi itu pemalu..dulu lohh dulu.


Keanehannya Sofi itu...elo kok jadi orang baik amat sih sof? Trus ga doyan marah-marah. Trus Sofi juga gak pernah terhipnotis dengan asmara. Sofi itu netral. Kalau lisa sama gita itu kaya api..hidup dan meletup-letup. Nenek kaya danau yang hitam kelam uahahaha. Kalo Sofi itu...hmm kaya udara pagi hari kali yah. Ringan, sejuk.


Selama sepuluh tahun temenan, cuma satu kali gue inget sofi marah. Itu pas gue ama nenek berkomplot ceburin dia ke kolam renang uhahahah. Abis itu dah ga lagi.


Aduh jadi homesick nih.
Gue pengen pulang. Ketemu kalian lagi. Plus makan mpek-mpek, batagor, seafood, somai...martabak manis, martabak telor...aduuhhhhhhhh

Monday, September 17, 2007

Sigh


It's a clear night tonight. No stars, no rain, no wind.

Feeling rather bored and tired. I know I should be sleeping by now.


I guess this is the time of the year when one just feel rather unmotivated, uninspired, and lazy.


I wish it would rain down tonight.


For long I have been doing something deemed unacceptable. Feeling lost and empty.

No more stores to wonder around, No more interesting people to talk to.


Sometimes I just wish that the earth will swallow me down and I don't have to face the fact

Friday, September 14, 2007

You and me

"Maybe in another life, when we're both cats." ~ Vanilla Sky

It was raining the whole day. I stood on the bus stop, cursing the grotty weather and trying not to get too wet.

So why am I doing this?

" Haven't seen u in a while,

meet me at Jones' tomorrow

afternoon if you are free." - J

I checked my cell and read again the txt from him last night.

"Bastard." I cursed again. The old man standing beside me was shocked, I quickly apologize to him and said it was not addressed to him.

10 minutes later i arrived at Jones. He was already there, sitting and he smiled at me, "Lookin great."

"Save the crap will ya," I waved my hands to the waiter. "Vodka tonic, thanks."

"Vodka tonic? Not in a good mood are you?" he said still smiling. How annoying.

"So what is it James?" I asked him while taking off my creme coat.

"Well, we haven't talk in a long time, and I...I just miss you, May." He scratched his head, his blonde curls fallin around his forehead.

"I honestly don't have time for this." I rolled my eyes and took out my Peter Stuyvesant and light it up.

"Why not? Got a new man already?"

"No."

"You...Still arrogant as usual."

I shrugged my shoulder and sipped the vodka tonic. In an instant my head was reacting to it.

"Yet you still want to see me." I said.

"You're not the most beautiful woman in the world you know."

"I know."

"Smart but, there are still woman smarter than you."

"Thank you."

"And not the kindest for sure. Maybe one of the meanest."

"So?"

"Why are you so snobby, Mai, look, I just wanted to have fun with you, is that a sin?"

"Fun? Well in that case you better join the queue."

"Don't fool around May, you don't have time to give those guys you're attention. Because none of them is as good as me."

I sat there in silence. He's right.

"If I'm that bad James, why do you still txting and asking to meet then?"

"You got something that I want."

"Keep going..."

"Its not just about your lips, or tits, or pussy."

"Hah, classy!"

"It's more than that, you...make me feel incompetent. There's no use on pretending you don't want me. Stop acting like you don't need me."

"I'm not gona die for not seeing you."

"Why are you so reluctant?"

"I hate desperation James, you know it."

"Do I sounds like desperate to you?"

"I don't know. I can smell desperation coming from you."

His face hardened. I know that look, he's pissed off. But then he took a deep breath and back smiling again.

I don't know. He likes me, I know, he told that million times. I like him too, but he doesn't know. The problem is my feelings is a mixed of like and hatred. I don't like his honesty. It's too straight forward. I don't know if I want to get down and dirty with him. He is kinda cute with his curly blonde hair and blue eyes. And his smile is kinda dazzling.

He stood up from his chair. He gave me a peck on my cheek. "You smell good."

"Anyway, it's good to see you again Mai, give me a text?"

"Maybe, maybe not." I stood there and finished my drink.

"Why not?" He raised his eyebrows.

"I don't know James, maybe in another life...when we're both cats. Good bye James" and with that I left the bar, feeling empty and hollow.

Saturday, September 1, 2007

Number 23 part dos

Dia menghela nafas panjang.

Perutnya lapar. Sekali lagi dia lupa makan siang. Herb bilang, itu adalah salah satu dosanya sebagai peneliti. Biasanya dia memang sering sekali melewati jam makan siang. Tapi akhir-akhir ini dia malah lupa kapan terakhir kali dia makan.

Dia melangkah ke ruangan penelitiannya. Kertas-kertas berisikan rumus-rumus empirikal dan rumus-rumus lain ciptaannya berserakan diantara tabung-tabung.

Dia tidak pernah menyangka, penelitian yang berawalkan dari sebuah keinginan murni untuk menyelamatkan adik perempuannya membawanya ke sebuah proyek human genome. Proyek cloning yang dia teruskan dari profesornya semasa dia kuliah dulu.

Gaby, adik perempuannya, memiliki salah satu penyakit genetika turunan, Cystic Fibrosis. Suatu penyakit yang membuat Gaby sulit bernafas, disebabkan oleh produksi enzim yang tidak cukup dan lendir yang terus menerus hadir di paru-paru. Berpuluh-puluh kali Gaby masuk rumah sakit karena infeksi paru-paru.

Hatinya perih melihat adiknya yang selalu tersengal-sengal. Penyakit kutukan kata orang, entah darimana datangnya.

Ayah dan Ibu, termasuk dirinya tidak terlahir dengan diagnosa seperti itu. Namun Gaby yang selalu tersenyum, tes keringat Gaby menunjukan bahwa gen CFTRnya bermutasi dan menyebabkan kedua gen CFTR di tubuh Gaby berhenti bekerja.

Setiap kali dia mengingat Gaby, hatinya selalu panas. Penuh dengan amarah.

Apa Tuhan itu ada?

Kenapa dia memberikan Gaby penyakit itu? Bayi kecil tanpa dosa, terlahir dengan membawa penyakit, terdiagnosa dengan Cystic Fibrosis sama saja dengan vonis hukuman mati.

Namun ada yang lebih perih dari sekedar kemarahan yang meluap. Hatinya sakit ketika dia mengingat adiknya yang selalu bertanya, 'Kak, Glasgow itu seperti apa sih?' atau saat dia melihat mata adiknya yang berbinar melihat seorang atlit ice skating menari dengan elegan di dalam layar TV, dan binar-binar itu punah dengan seketika pada saat Gaby menyadari dia tidak akan bisa melakukan itu.

Ada yang lebih perih dari sekedar kemarahan, itu adalah perasaan tak berdaya. Ketidakberdayaan-nya untuk menyangkal takdir adiknya, membuat dia mengikuti jalur kedokteran dan mengakhirinya di jalur peneliti.

Dia selalu menjadi nomor satu. Bukan karena kepandaiannya atau bukan karena dia dikarunia IQ yang super jenius. IQnya hanya diambang rata-rata manusia biasa. Namun dia selalu menjadi nomor satu karena keseriusannya.

Di sekolah menengah, pada saat anak-anak lain sibuk bersosialisi dan mengejar gadis gadis, dia akan berada di perpustakaan, menelaah dan menelan artikel-artikel, buku-buku, tesis dari para professor. Keseriusannya menjadi salah satu faktor mengapa tingkat konsentrasinya begitu tinggi. Keseriusannya telah mematahkan hati beberapa gadis ketika dia memilih untuk diam dan membaca buku. Keseriusannya pula lah yang menyebabkan rambutnya memutih. Dan pada saat dia berumur 20 tahun, rambutnya pun perak sempurna. Orang-orang di kampus mengenalnya dengan sebutan Silver Jim.

Di masa kuliah, keseriusan dan keteguhan hatinya untuk mencari penyembuh untuk Gaby, membuat salah satu dari profesor ilmu alamnya tertarik membaca ide dari thesisnya dan menariknya untuk menjadi salah satu kru di proyek cloning rahasia negara. Proyek cloning yang berkapitalkan jutaan dollar. Human Genome project.

Lima tahun lamanya dia, professornya dan kru human genome project mencari cara untuk mengkopi sel-sel manusia. Namun pasangan jutaan gen di tubuh manusia terlalu kompleks untuk dikopi. Mereka tidak pernah putus asa. Tapi negara tidak sesabar para peneliti. Kegagalan demi kegagalan dalam eksperimentasi, menyebabkan kematian untuk beberapa manusia yang berani mengikuti percobaan terapi genetik mereka. Beberapa negara asing lainnya membuat keputusan suara bulat, bahwa kloning itu melanggar kode etika manusia yang paling dasar. Jutaan dana terus dialirkan oleh negara namun hasilnya tetap nihil. Tahun ke-enam proyek itu resmi ditutup. Dua bulan setelah proyek itu ditutup, Gaby meninggal dunia.

Entah harus merasakan perasaan yang seperti apa, Jim pun tidak tahu. Di tengah-tengah frustrasinya, dia memutuskan untuk pergi keliling dunia, Frankfurt, Edinbourgh, Nepal, Bangkok, Umbria, Latvia, Jordania. Dia kehilangan alasan untuk hidup. Kehilangan tujuan untuk hidup, karena dirinya telah dikhianati tangan-tangan takdir nan kejam. Diapun serasa kembali lagi ke masa lalu untuk meraih kesenangan yang belum pernah dia rasakan.

Mereguk kenikmatan duniawi. Wanita-wanita tercantik yang belum pernah dia sentuh. Minuman keras termahal, Grand Marnier, Grand Cognac, Bruichladdich, whiskey berumur 40 tahun yang termahal yang pernah dia minum. Absinthe, minuman paling keras yang dia pernah reguk yang membuat dunia serasa berputar dengan dirinya sebagai poros.

Obat-obatan yang legal pada saat dia mengunjungi negeri kincir angin. Acid, LCD, Ecstasy, Kokain. Semuanya dia reguk. Mungkin itu bentuk dari frustasi tapi mungkin juga itu bentuk bunuh diri pasif, karena dia sendiri belum berani untuk membeli sebuah revolver untuk ditembakkan ke kerongkongannya. Siang menjadi malam, malam menjadi siang. Diantara malam-malam penuh dengan kekosongan dia menyedot bubuk-bubuk putih kokain diantara lekukan-lekukan tubuh wanita wanita tanpa nama.

Kegilaan itu berlangsung selama kurang lebih setengah tahun sampai pada akhirnya dia membuka emailnya. Di inboxnya tertulis nama professor Wickham dan subject bertuliskan Genome. Tiga jam setelah dia membaca email itu, dia mengepak tas punggungnya, meninggalkan hotel kecil di Meksiko dan memesan tiket ke Ukraina. Tujuan selanjutnya adalah Odessa.

Sesampainya dia di Odessa, dia menuju sebuah kafe kecil di kota pelabuhan itu, dan didalam kafe buluk itu dia melihat sosok yang dia kenal. Professor Wickham, professornya semasa kuliah dan supervisornya dalam proyek human genome.

"Jim, hahaha, aku tahu kau pasti datang." Prof. Wickham menyambutnya dengan gelak tawa dan sebotol rum yang hampir kosong. Dia belum pernah melihat professor Wickham di luar jas putih laboratorium, tapi kali ini Wickham memakai mantel ringan berwarna coklat tua dari bahan suede. Celana bermotifkan kotak-kotaknya tidak bisa menyembunyikan perut tambun professor Wickham.

"Demi Tuhan Jim, ada apa denganmu?"

Jim hanya mengangkat sebelah alisnya untuk menyapa professor Wickham, dia pun duduk dan mengisi gelas yang ada di meja dengan rum. Jim yang biasa tampil rapih, terlihat berantakan dengan janggut yang sudah lama tidak dia cukur. Warna janggutnya yang coklat kontras dengan rambut peraknya.

"Dan kau pun minum sekarang?"

"Yah, apa gunanya sober jika tidak ada yang perlu diteliti."

"Sedikit kesenangan memang bagus untuk tubuh dan pikiran Jim, kau memang pantas mendapatkannya setelah semua jerih payahmu."

"Dengar Jim, aku memulai proyek genome ku sendiri. Ada beberapa penemuan yang aku temukan selama enam bulan terakhir ini."

"Tapi bagaimana ca-"

"Gampang Jim, begini, dana yang waktu itu diberikan oleh pemerintah, tidak semuanya aku gunakan. Untuk jaga-jaga seandainya mereka menghentikan penelitian kita. Dengar baik-baik, proyek ini akan tetap jadi rahasia. Aku memerlukan seseorang yang berdedikasi sepertimu. Apakah kau mau melanjutkan proyek ini?"

Jim terdiam. Proyek Genome yang berlanjut. Hasilnya tetap tidak diketahui, dan adiknya Gaby sudah meninggal. Apa lagi gunanya? Jika proyek ini gagal sekali lagi dunianya akan berputar-putar seperti neraka.

"Kenapa kau tidak seyakin dulu? Dengar aku tahu apa yang terjadi dengan adikmu. Begini Jim, jika proyek ini berhasil. Kau sendiri tahukan apa artinya? Kita menjadi pencipta. Dan yang lebih penting lagi, semua penyakit 'kutukan' bisa disembuhkan. Tidak ada lagi penyakit-penyakit seperti Cystic Fibrosis dan sampah-sampah seperti itu. Untuk kali ini, kita bisa melawan takdir Jim."

Dia masih terdiam. Takdir. Sudah menjadi musuh alami baginya.

"Baiklah, aku harus melihat penemuan barumu dulu."

"Haaahaaa hahaaaha...semangat yang menakjubkan Jim, mari menuju laboratorium setelah botol rum ini habis. Cheers" dan setelah mereka bertoast dan menghabiskan rum terakhirnya mereka pun pergi menuju laboratorium bawah tanah professor Wickham.

Compulsive Txter (SMS)

[com·pul·sive ]
–adjective


1. Compelling; compulsory.

2. Psychology.
a. pertaining to, characterized by, or involving compulsion: a compulsive desire to cry.

b. governed by an obsessive need to conform, be scrupulous, etc., coupled with an inability to express positive emotions.


Mari kita ngeliat karakter yang (b).
Buat gue telpon genggam udah merupakan suatu kebutuhan tersendiri, bukan karena itu gue gak bisa idup...tapi karena hp itu menyokong gaya hidup pemalas, hedonis dan self-centrednya gue.


Tapi gue paling gak tahan sama compulsive txter. Orang2 compulsive txter tersebut punya simptom-simptom sebagai berikut:
1. Sms panjang bertele-tele (bisa ampe 4-5 layar)
2. Begitu sms gak dibales 5 menit kemudian udah ada sms baru (dan terus berlanjut sampai lo bales smsnya). "Eh, lo dah dapet sms gue yang tadi belom"
3. Biarpun dibilang "udah ya, gue mo bobo dulu" malah dibales lagi
4. Smsnya kebanyakan bercerita tentang diri sendiri....


Uuuhh rasanya pengen gue teriakin, gue tampar ampe puyeng, masukin tong sampah, trus gue cuci biar bersih, gue jemur, abis itu disetrika ampe licin. Gini-gini....emang hp itu dipake tiap hari tapi gimana kalo gue lagi mandi, lagi nyantai, lagi tidur siang, atau simply, hp itu gue silent jadi ga kedengeran (95% dari waktu yg ada hp gue emang di silent sih).


Yang bener aja ah, itu kan sangat gak masuk akal buat gue stay connected 24 jam 7 hari seminggu.


Gue bener2 ga ngerti dimana enaknya sms-an. Cerita panjang2 lewat sms, jempol gue bisa benjol. Belom lagi tingkat produktifitas jadi menurun. Coba gimana bisa nyelesein paper/ kerja kalo sms-an doank kerjanya. Belum lagi interupsinya kalau lagi ngobrol sama temen, enak2an ngopi ngebahas sesuatu terus ada sms yang harus dibales, mending kalo dibales cuma sekali ini kalo ga dibales malah sms lagi "oi, udah baca sms gue yg tadi belom", dilanjutkan dengan, "lama amat balesnya lagi ngapain sih"....trus dilanjutkan lagi dengan "oi, nyuekin nih ceritanya?"


Buh-syeeetttttt
Kenapa sih harus jadi compulsive? hiddiihh


Gue sangat mendukung adanya penelitian terhadap compulsive txter ini. Walaupun belom ada yg bikin yah..tapi gue ngerasa itu sebagai gangguan psikis tersendiri. Dan compulsive txter ini ada di setiap gender, cowok ama cewek, jadi gue ngerasa bener-bener harus diteliti penyebabnya.
Anyway hehehe sekian crap dari gue hari ini.

Friday, August 31, 2007

Mari belajar filosofi

Dulu sekali....

Gue percaya akan adanya Tuhan, gue bahkan termasuk orang yang punya (faith) dan a (believer)...

Sekarang,
Gue terus bertanya

Apa yah...sepertinya pikiran manusia itu racun dan obat pada saat yang sama.

Seorang manusia yang gak berpikir, biasanya mengikuti aturan karena itulah yang dia rasa benar...tapi darimana dia tahu itu benar? Tapi setidaknya dengan cara mengikuti itu, dia terbebas dari moral dilema.

Lalu seberapa banyak sih pengetahuan bisa meracuni pikiran? Masalah dengan pengetahuan itu sendiri, semakin kita tahu, semakin kita tidak tahu. Dan karena ketidak tahuan itulah kita jadi ingin selalu mencari tahu.

Sial

Kayanya bentar lagi gue gila deh. Ternyata Sofi bener. "Ati-ati may, kalo belajar filosofi."

Aristotle bilang...semua makhluk punya tujuan sendiri. Dan cuma dengan memenuhi tujuan itu lah dia bisa menjadi suatu manusia yang sepenuhnya. Contoh: batu. Dengan diam, kokoh dan membatu itulah batu bisa disebut sebagai batu. Terus argumennya berlanjut; karena manusia itu adalah makhluk yang rasional, maka dari itu, manusia bisa menjadi manusia yang seutuhnya kalau dia berhasil menggunakan kerasionalannya tersebut. (I.e. Pikiran/Otak/Logis).

Sial

Terus tujuan gue ada di dunia ini apa?

Kalau argumen Sofi...ya untuk melakukan kebaikan dan menyembah Dia.

Andrew bilang...manusia ada di dunia ini karena purely chance; maksudnya...karena ada sel telur dan sperma. Itu doank ga ada alesan lainnya

Argumen nenek...sepertinya untuk mencari cinta?

Argumen dari gita? Mungkin gumaman-gumaman tertentu tentang hal-hal tertentu (Coba ini kalo ada waktu lo isi git).

Tapi dari ribuan sel telur dan ribuan sperma emak dan bapak gue, yang terkuat, dan tercepat adalah gue, maka dari itu yang jadi adalah gue. Seandainya sperma lain yang lebih cepat....outcomenya apaan yah? Apakah gue bakal jadi gue yang seperti sekarang? Apa jalan ceritanya bakalan berbeda yah?

Jiwa memang cuma satu

Dia yang jadi penggerak dan mesin

Tubuh sekedar alat

Kata-kata yang tertera di dinding gym di uni;
"With exerce, you bring out the god in you"

Masuk akal. Karena biasanya setelah melakukan olahraga rutin dan berdisiplin diri, stamina jadi kuat. Imej tubuh jadi indah. Apa itu bukannya mengeluarkan imaji Tuhan di dalam tubuh? Kuat dan Indah. A picture of perfection. Imaji yang sangat dekat dengan Tuhan.

Bagaimana dengan mencipta?

Kehebatan manusia dengan mencipta juga mungkin hanya 0.00001 dari kehebatan Tuhan mencipta. Tapi itu aja udah bisa membuat gue menarik nafas takjub, jantung gue berhenti satu detakan, dan bulu kuduk gue merinding.

Pencipta internet misalnya yg asal muasal bisa dikilas balik ke bagian pertahanan amerika serikat. Gila. Internet itu Jenius. Pertukaran informasi yang bisa dengan cepat dari bagian belahan dunia lain dalam hitungan detik (well, itu tergantung koneksi internet provider lo sendiri juga sih). Itu adalah ciptaan hebat. Dan dengan mencipta, lagi-lagi manusia mengeluarkan Tuhan dalam dirinya.

Waktu musisi mencipta lagu...paduan notasi yang begitu indah bermain-main dalam keheningan dan menjadi suatu yang utuh yang disebut musik. Itu ciptaan manusia juga.

Tapi lagi lagi...gue bertanya tujuan gue di dunia ini apa?
Dunia gak akan berhenti berputar dengan gak adanya gue
Dan dunia juga gak berputar lebih cepat dengan adanya gue

Kalau sofi sudah punya tujuan hidup yaitu dengan menyembah dia

Nenek tujuan hidupnya adalah menemani orang yang spesial, menjadi teman sekaligus kekasih orang itu, menjadi support untuk orang itu ..kalau mau minjem liriknya Second Hand Serenade, "I was born to tell you that I love you" mungkin itu tujuan lo hidup nek? Koreksi lah kalau gue salah.

Andrew tujuan hidupnya yah dengan menjalani hidup itu sendiri.

Lalu, bagaimana dengan gue?

"The unexamined live is not worth living."
~ Aristotle

Tuesday, August 28, 2007

Odyssey



Caught me on your net
In a deep ocean where I was alone
Someone left me behind
Sail away with what was left

Cold, cold night
Alone and stun
Waiting to drawn
Then you swam along
Mesmerizing and pulled me along
Shield me with warmth

From the finger tips
Through every little strand of hair
Sweet and tender
Whispered softly
In the darkness

I'm not an island for you to moor your heart

Only here for a while
Short and sweet
Don’t let it passed
This moment is us

Then put me back to the ocean
Back to the darkest night
Let me swim under the nothingness

Because no one can love me the way he loved me
Mourning for the lost of my reflection in his eyes

And I'm not an island for you to moor your heart

Sexual Innuendo

Warning: The content of this blog
might offend some people.
R18, contains sexual languange.
Read at your own expense.

"Fuck off!"

"No you, fuck off!"

"Get outta my way you freakin bitch."

"Who you callin bitch, cunt?"

"Shuddup and just fuck off!"

"No, you fuck off!"

"Fuck you!"

"No, Fuck YOU!"

"Oh, so you want to fuck me?"

".....maybe..."

"....."

"Well, you're not too bad your self gorgeous."

"And, you got some spunky ass there."

"Say, ...my place or yours?"

" Mine, cuz I got the video camera."

"Great, shall we?"

"And we shall..."

"By the way, you happen to like doggy?"

"Even better, get some extra boys will ya?"

"Sure...."

Saturday, August 11, 2007

Number 23

Dia terbangun.

Matanya mengerjap-ngerjap terbuka
Dia menarik nafas..

Paru-parunya terasa berat dan terhimpit
Setiap oksigen yang dia hirup serasa bagaikan jarum tajam yang menusuk

Dia mencoba untuk menggerakkan kakinya....mati rasa.
Bagaimana dengan tangannya....dia tak merasakan apa-apa

Masker dimulutnya terlihat putih oleh uap nafasnya sendiri
Dia melihat sekeliling
Ruangan ini...ruangan yang sering dia lihat dalam mimpinya

Ruangan biru penuh dengan mesin-mesin aneh yang dia sering lihat, namun tak tahu apa namanya. Di samping kanan dan kirinya terlihat makhluk-mahluk terbaring tertidur, semuanya berwajah serupa.

Di luar terdengar langkah-langkah kaki dan tidak berapa lama kemudian orang-orang berbaju putih itu masuk. Ya, dia sering melihat orang-orang ini dalam mimpinya. Salah seorang dari mereka sering datang melihat kami. Namun entah kenapa orang itu sering datang ke ranjangnya, menceritakan dongeng-dongeng indah tentang suatu tempat yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Orang itu bercerita tentang air terjun raksasa, tentang kincir raksasa di tengah kebun bunga yang luas. Dia juga bercerita tentang wanita-wanita mistis yang memakai memakai bedak putih dan bersembunyi di balik kipas-kipas kayu.

Terkadang orang itu membawa minuman, dan orang itu memberikannya segelas dari minuman itu. Rasanya asam, pahit, dan manis. "Ini Chardonay, Number 23...dari perkebunan anggur di Meksiko...bukan dari Paris...kamu tentu ingat ceritaku tentang Paris, dimana orang-orang hanya berkerja sampai tengah hari dan menutup tokonya begitu pukul 3. Mereka memang pembuat anggur paling hebat di dunia, tapi aku lebih suka Chardonay dari Meksiko, Number 23...karena dari setiap anggur yang mereka buat, ada cerita tentang itu."

Terkadang orang itu juga memainkan musik untuknya. Melodi-melodi lembut keluar dari sesuatu yang berwarna ke-emasan. Setelah orang itu selesai bermain musik orang itu akan meletakkan alat musik emas itu dan membelai rambutnya. "Kamu lihat ini 23? warnanya sama seperti rambutmu. Alat menakjubkan ini namanya Saxophone. Aku berani bertaruh, kamu pasti senang jika bisa memainkan alat musik ini. Miles Davis...orang itu sangat hebat, jauh lebih hebat daripada aku. "

"Kamu tahu 23? Kemarin number 20 sudah tak ada lagi. Ya, kami harus membiarkannya pergi, kami menerima banyak permintaan ginjal dari Hamburg...kami harus mengambil kedua ginjalnya. Aku sangat takut 23....karena sebentar lagi giliran kamu, mereka bercerita tentang permintaan kornea dari Brusells. Dan matamu yang indah ini...wanita gila itu menginginkan warna abu-abu dinginmu. Tapi tenanglah 23, aku tak akan membiarkannya terjadi. "


Dan orang itu pun berlalu setelah memberikan kecupan di keningnya. Dia sudah tidak pernah merasakan kehadiran orang itu lagi.


"Jim, yang ini sudah sadar."


Dia mendengar suara berat dan serak dari laki-laki bertubuh tinggi. Janggut putihnya menghiasi seluruh wajahnya.


"Oh, number 23."

"Si cantik number 23."


Kedua laki-laki lain mendekati dia. Mereka berdua berwajah serupa. Rambut ikal berwarna ke-emasan. Mata hijau seperti emerald.


"Tom, coba cek tekanan darahnya." Satu dari laki-laki pirang itu meraih tangannya.

"Detak jantungnya sempurna Herb," kata yang satu lagi.


Kedua orang laki-laki sibuk memasangkan alat-alat aneh di tubuhnya.


"Hebat, kamu memang pencipta yang hebat Jim. Yang ini benar-benar sempurna tanpa cela." kata laki-laki tua berjanggut putih itu. "Kapan kita akan memulai operasi? Nenek gila itu sudah tak sabar mendapatkan mata number 23."


Orang yang mereka panggil Jim itu mendekatinya. Orang itu, laki-laki yang sering menceritakan dongeng-dongeng indah di malam hari. Rambutnya ikal, berwarna perak, tubuhnya tinggi tetapi kurus, terlalu kurus untuk sesorang dengan ketinggian seperti itu.


Jim sampai di ranjangnya. Kedua orang berambut pirang itu mundur.

"Jangan, jangan sekarang."


"Tapi Jim, pesanan sudah menggunung." laki-laki tua itu berkata lagi.


"Embrio darinya belum cukup, yang ada pun belum sepenuhnya terbentuk sempurna."


"Apa lagi yang kurang? kromosomnya sudah kau padukan kan?"


"Jangan sekarang." Jim berkata dengan datar, yang lain hanya terdiam.


"2 hari Jim, cobalah selesaikan dalam 2 hari." Lelaki tua itu membalikkan tubuhnya dan kedua orang berambut pirang itu mengikuti dan sesaat kemudian hanya ada dia dan Jim. Keadaan sangat hening.


"Halo number 23," Jim duduk disamping ranjangnya, dan tersenyum. Dia sangat menyukai senyum orang ini, pada saat orang ini tersenyum hatinya terasa hangat dan kamar ini tidak terasa begitu dingin lagi.


"Maaf, hari ini aku tidak bawa apa-apa, tidak sempat." katanya lagi


"2 hari lagi 23, mereka akan mengoperasi kamu...pertama-tama mereka akan mengambil kornea matamu untuk nenek gila di Brussels. Lalu tulang sumsum milik mu akan diterbangkan ke Arizona, ginjalmu sepertinya akan diterbangkan ke Srilanka...dan yang lainnya akan disimpan untuk pesanan selanjutnya.

.... to be..continued

Wednesday, August 8, 2007

Ayahku, sales vakum dan virus komputer


Tik tak tik tuk...

Aku sedang asyik masyuknya mengetik percakapan online waktu dari luar rumah terdengar suara- suara berat sedang berbicara, yang satu, aku mengenalinya, tak lain dan tak bukan dari suara bariton milik ayahku sendiri. Dan yang satu lagi, dengan volume dan tempo yang lebih cepat, adalah suara milik laki-laki lain yang berlogat batak.

Karena rasa penasaran, dan karena memang sudah bosan, aku pun mengakhiri pembicaraan dengan kakek-kakek tua lawan bicaraku dengan mengancam akan melaporkan dia ke kapolres atas tuduhan fedofilia berencana terhadap anak di bawah umur. Akupun bergegas mengintip ke luar halaman.

Diluar ayahku berdiri dengan celana pendek favoritnya yang jauh terlalu pendek (sepertinya itu celana olahraganya waktu dia masih SMA). Dengan kacamata kecilnya, ayah menatap laki-laki berlogat batak itu dengan kecurigaan yang amat sangat.

"Ehhh, Bapak, jangan curiga dulu bapak, ini yang saya bawa ini, dijaminn pasti bikin istri bapak senang." laki-laki yang lain itu tersenyum lebar.

"Heh, sembarangan. Maksud kamu istri saya tidak senang sekarang, kamu tau darimana, ada main sama istri saya?" hardiknya dengan tidak senang, tangannya dilipatnya di atas perut yang sudah tambun.

"Lucu si Bapak ini, bukan begitu maksud saya bapak, ini yang saya bawa adalah vacuum cleaner abad 21. Dijamin bisa bikin istri bapak senang waktu bersih-bersih rumah." Sales vacuum itu pun membuka kotak besar yang ada dihadapannya. Ayah hanya menatap penuh kecurigaan.

"Lihat bapak, ini dual sistim...bisa pakai listrik bisa pakai batere pula, bapak. Belum lagi ini, lihat didalamnya, begitu besar ruangnya. Bisa untuk sedot satu, dua, atau bahkan tiga rumah sekaligus." Sales itu dengan mahirnya membolak-balik vakum cleaner berukuran raksasa dan menunjukkan tempat penyimpanan kantung debu.

"Ah, abad 21 apanya...semua vakum juga bisa seperti itu jaman sekarang." Kata ayah sambil mengambil vakum cleaner dari tangan si sales. Ayahpun mengamati dengan seksama.

"Nahh, itu dia bapak, ada alasan kenapa kita panggil vakum ini vakum abad 21. Bapak liat selang penyedot ini?" masih dengan logat bataknya yang kental sales itu mengeluarkan selang penyedot yang ukurannya tak kalah besarnya dari vakum itu sendiri. Pandangan ayahku beralih dari vakum ke selang tersebut.

Sukses menarik perhatian ayahku, sales itu pun kembali melanjutkan, "penyedot ini berukuran besar karena ada alasan tertentu bapak. Vakum ini bisa menyedot, kering dan basah, jadi misalnya cangkir kopi bapak tumpah, tidak perlu lagi menyapu beling dan mengepel, semuanya bisa disedot dengan instan, bapak. Lalu....bapak tau kan virus komputer?"

"Iyaa, pastilah, pertanyaan kamu kok bodoh," balas ayah.

"Naaah itu dia bapak, vakum ini bisa juga menyedot virus komputer. Jadi bayangkan anda sedang menggunakan komputer bapak, lalu ada tulisan...'awas virus' bapak tidak perlu panik. Tinggal ambil vakum ini, nyalakan powernya, lalu, tinggal bapak sedot...dalam sekejap komputer bapak bersih dari virus. Bagaimana? Abad 21 kan bapak?"

"Bodoh kamu, virus komputer kok disedot pake vakum. Ah sudahlah, capek saya meladeni kamu, nanti kalau mau jual vakum lagi, teliti dulu. Virus komputer kok disedot pake vakum,
ada juga dibawa ke dokter, minta antibiotik, ah orang jaman sekarang mau jadi apa..gitu aja nggak tau."

Akupun hanya bisa berjengit.

Friday, August 3, 2007

Gagal moral

Jam 2 siang.

Hari ini matahari bersinar terik, untungnya nggak dingin. Gue baru aja selesai kuliah 4 jam non-stop, full on mata kuliah project management sama kelas filosofi. Sudah bosan disesaki dengan teori-teori untuk cari duit dan teori-teori utilitarianism bersama satu group yang selalu membisu kalau ada aktifitas group...(sialan, coba kalau itu otak gak dipake, mendingan di transplan aja deh buat nambahin kapasitas memori otak gue yang gak seberapa besar ini.)

Perut keroncongan, dari pagi belom makan...gak sempet...lagi-lagi karena ada group meeting, yang 2 dari anggotanya lupa kalau hari ini tuh ada group meeting, dan gue harus bangun pagi sia-sia. Sambil memaki-maki dalam hati dan membayangkan bakmi goreng di rumah, dan tempat tidur yang super empuk, gue nunggu di tengah jalan. Nunggu lampu merah nyala, dan nunggu tanda "manusia kecil" berwarna hijau nyala supaya gue bisa nyebrang jalan.

Dari arah berlawanan, ada gadis muda kira-kira sebaya sama gue, atau mungkin lebih muda 1 tahunan, berjalan, memakai kacamata hitam dan bertongkat. Gadis itu buta. Dia menyebrang jalan sedikit tertatih. Gue bisa mengendus bau-bau ketakutan dan ketidak pastian dari bahasa tubuhnya, tapi dia terus berjalan menyebrang. Dari tempat dia berjalan lampu sudah hijau, tapi dari tempat gue berdiri, lampu masih merah. Beberapa detik kemudian dia pun sampai di tempat gue berdiri dan dia pun bingung, haruskah menyebrang atau menunggu. Ada satu mobil yang datang dan melambatkan kecepatan....pengemudi itu dengan sabarnya menunggu gadis itu untuk lewat. Gadis itu menunggu dan meraba-raba jalan dengan tongkatnya.

Gue cuma berdiri memandangi, 2 atau 3 orang di sekitar gue juga cuma memandang, dan saat gue lagi mikir...perlu dibantu gak ya?...seorang lelaki dari kejauhan berjalan cepat menuju gadis itu dan menggapai tangan si gadis, dan membantunya menyebrang.

Idiot. Gue cuma bisa mengutuki diri sendiri.
Bener-bener idiot ... Maya maya... kenapa gak langsung aja sih nolong tu cewek nyebrang jalan, jelas-jelas gue lebih deket daripada tu cowok, tapi kok cuma berdiri aja...itu cowok dari jauh udah lari-lari cuman buat bantu itu cewek buat nyebrang...

Hari ini...moralitas gue mengkhianati segala prinsip. Dengan moral rendah seperti ini...apa gunanya menjejali otak dengan segala macam teori ideal tentang dunia.
Bahkan untuk membantu orang buta nyebrang jalan aja, gue masih lama mikirnya.

Bener-bener idiot.

There's always a price...for beauty

Rambut...check
Mata...check
Bibir...check
Mantel bulu....check
Skinny Jeans....check
Boots..check
Tas....check
Ipod...check


Sempurna

"Oh kaca- kaca di dinding, siapakah yang tercantik disini?!"
"Anda tuan putri, bukan hanya tercantik tapi terseksi juga"

Hehehe..saatnya gue keluar, dan menunjukkan pada orang-orang awam di jalan itu, apa itu yang namanya STYLE.

Rambut pirang semiran dan keriting papan pun berkibar di angin pagi...Jalan catwalk gue yang udah beratus-ratus kali disempurnakan di depan kaca sedang di praktekkan, dan berhasil menarik perhatian semua mata memandang...all eyes on me boys...

Nah itu dia bus gue...kayanya mesti lari nih...

Dan tiba-tiba...sesaat gue ngerasa jadi Neo di film matrix....dalam slow motion adegan sebuah film, dan hidup gue dari masa kecil sampai sekarang berlalu di depan mata... flash back...ada mama ada papa....waktu putus sama Hari...dan si botak dari toko Paris Texas minggu lalu...sekarang gue baru ngeh dia bilang apa waktu gue selesai bayar skinny jeans yang sekarang gue pake ini....

Dia bilang, "Non...yakin itu skinny jeans nggak kekecilan buat non?"

SHIT

GUBRAK

....yaaahhh....

Hancurlah riwayat skinny jeans abu-abu yang gue beli pake duit gaji sebulan...bret bret bret...robek... pas di bagian yang sudah sewajarnya untuk ditutupi...gak usah dibahas...
Lebih robek lagi image gue...
Jadilah gue penghibur para pekerja-pekerja kantor dan pelajar yang masih ngantuk di oagi hari yang dingin

Kayanya emang gak bisa lepas dari celana dan kaos gombrong plus sendal jepit deh...

There's always a price...for beauty.