Dia terbangun.
Matanya mengerjap-ngerjap terbuka
Dia menarik nafas..
Paru-parunya terasa berat dan terhimpit
Setiap oksigen yang dia hirup serasa bagaikan jarum tajam yang menusuk
Dia mencoba untuk menggerakkan kakinya....mati rasa.
Bagaimana dengan tangannya....dia tak merasakan apa-apa
Masker dimulutnya terlihat putih oleh uap nafasnya sendiri
Dia melihat sekeliling
Ruangan ini...ruangan yang sering dia lihat dalam mimpinya
Ruangan biru penuh dengan mesin-mesin aneh yang dia sering lihat, namun tak tahu apa namanya. Di samping kanan dan kirinya terlihat makhluk-mahluk terbaring tertidur, semuanya berwajah serupa.
Di luar terdengar langkah-langkah kaki dan tidak berapa lama kemudian orang-orang berbaju putih itu masuk. Ya, dia sering melihat orang-orang ini dalam mimpinya. Salah seorang dari mereka sering datang melihat kami. Namun entah kenapa orang itu sering datang ke ranjangnya, menceritakan dongeng-dongeng indah tentang suatu tempat yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Orang itu bercerita tentang air terjun raksasa, tentang kincir raksasa di tengah kebun bunga yang luas. Dia juga bercerita tentang wanita-wanita mistis yang memakai memakai bedak putih dan bersembunyi di balik kipas-kipas kayu.
Terkadang orang itu membawa minuman, dan orang itu memberikannya segelas dari minuman itu. Rasanya asam, pahit, dan manis. "Ini Chardonay, Number 23...dari perkebunan anggur di Meksiko...bukan dari Paris...kamu tentu ingat ceritaku tentang Paris, dimana orang-orang hanya berkerja sampai tengah hari dan menutup tokonya begitu pukul 3. Mereka memang pembuat anggur paling hebat di dunia, tapi aku lebih suka Chardonay dari Meksiko, Number 23...karena dari setiap anggur yang mereka buat, ada cerita tentang itu."
Terkadang orang itu juga memainkan musik untuknya. Melodi-melodi lembut keluar dari sesuatu yang berwarna ke-emasan. Setelah orang itu selesai bermain musik orang itu akan meletakkan alat musik emas itu dan membelai rambutnya. "Kamu lihat ini 23? warnanya sama seperti rambutmu. Alat menakjubkan ini namanya Saxophone. Aku berani bertaruh, kamu pasti senang jika bisa memainkan alat musik ini. Miles Davis...orang itu sangat hebat, jauh lebih hebat daripada aku. "
"Kamu tahu 23? Kemarin number 20 sudah tak ada lagi. Ya, kami harus membiarkannya pergi, kami menerima banyak permintaan ginjal dari Hamburg...kami harus mengambil kedua ginjalnya. Aku sangat takut 23....karena sebentar lagi giliran kamu, mereka bercerita tentang permintaan kornea dari Brusells. Dan matamu yang indah ini...wanita gila itu menginginkan warna abu-abu dinginmu. Tapi tenanglah 23, aku tak akan membiarkannya terjadi. "
Matanya mengerjap-ngerjap terbuka
Dia menarik nafas..
Paru-parunya terasa berat dan terhimpit
Setiap oksigen yang dia hirup serasa bagaikan jarum tajam yang menusuk
Dia mencoba untuk menggerakkan kakinya....mati rasa.
Bagaimana dengan tangannya....dia tak merasakan apa-apa
Masker dimulutnya terlihat putih oleh uap nafasnya sendiri
Dia melihat sekeliling
Ruangan ini...ruangan yang sering dia lihat dalam mimpinya
Ruangan biru penuh dengan mesin-mesin aneh yang dia sering lihat, namun tak tahu apa namanya. Di samping kanan dan kirinya terlihat makhluk-mahluk terbaring tertidur, semuanya berwajah serupa.
Di luar terdengar langkah-langkah kaki dan tidak berapa lama kemudian orang-orang berbaju putih itu masuk. Ya, dia sering melihat orang-orang ini dalam mimpinya. Salah seorang dari mereka sering datang melihat kami. Namun entah kenapa orang itu sering datang ke ranjangnya, menceritakan dongeng-dongeng indah tentang suatu tempat yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Orang itu bercerita tentang air terjun raksasa, tentang kincir raksasa di tengah kebun bunga yang luas. Dia juga bercerita tentang wanita-wanita mistis yang memakai memakai bedak putih dan bersembunyi di balik kipas-kipas kayu.
Terkadang orang itu membawa minuman, dan orang itu memberikannya segelas dari minuman itu. Rasanya asam, pahit, dan manis. "Ini Chardonay, Number 23...dari perkebunan anggur di Meksiko...bukan dari Paris...kamu tentu ingat ceritaku tentang Paris, dimana orang-orang hanya berkerja sampai tengah hari dan menutup tokonya begitu pukul 3. Mereka memang pembuat anggur paling hebat di dunia, tapi aku lebih suka Chardonay dari Meksiko, Number 23...karena dari setiap anggur yang mereka buat, ada cerita tentang itu."
Terkadang orang itu juga memainkan musik untuknya. Melodi-melodi lembut keluar dari sesuatu yang berwarna ke-emasan. Setelah orang itu selesai bermain musik orang itu akan meletakkan alat musik emas itu dan membelai rambutnya. "Kamu lihat ini 23? warnanya sama seperti rambutmu. Alat menakjubkan ini namanya Saxophone. Aku berani bertaruh, kamu pasti senang jika bisa memainkan alat musik ini. Miles Davis...orang itu sangat hebat, jauh lebih hebat daripada aku. "
"Kamu tahu 23? Kemarin number 20 sudah tak ada lagi. Ya, kami harus membiarkannya pergi, kami menerima banyak permintaan ginjal dari Hamburg...kami harus mengambil kedua ginjalnya. Aku sangat takut 23....karena sebentar lagi giliran kamu, mereka bercerita tentang permintaan kornea dari Brusells. Dan matamu yang indah ini...wanita gila itu menginginkan warna abu-abu dinginmu. Tapi tenanglah 23, aku tak akan membiarkannya terjadi. "
Dan orang itu pun berlalu setelah memberikan kecupan di keningnya. Dia sudah tidak pernah merasakan kehadiran orang itu lagi.
"Jim, yang ini sudah sadar."
Dia mendengar suara berat dan serak dari laki-laki bertubuh tinggi. Janggut putihnya menghiasi seluruh wajahnya.
"Oh, number 23."
"Si cantik number 23."
Kedua laki-laki lain mendekati dia. Mereka berdua berwajah serupa. Rambut ikal berwarna ke-emasan. Mata hijau seperti emerald.
"Tom, coba cek tekanan darahnya." Satu dari laki-laki pirang itu meraih tangannya.
"Detak jantungnya sempurna Herb," kata yang satu lagi.
Kedua orang laki-laki sibuk memasangkan alat-alat aneh di tubuhnya.
"Hebat, kamu memang pencipta yang hebat Jim. Yang ini benar-benar sempurna tanpa cela." kata laki-laki tua berjanggut putih itu. "Kapan kita akan memulai operasi? Nenek gila itu sudah tak sabar mendapatkan mata number 23."
Orang yang mereka panggil Jim itu mendekatinya. Orang itu, laki-laki yang sering menceritakan dongeng-dongeng indah di malam hari. Rambutnya ikal, berwarna perak, tubuhnya tinggi tetapi kurus, terlalu kurus untuk sesorang dengan ketinggian seperti itu.
Jim sampai di ranjangnya. Kedua orang berambut pirang itu mundur.
"Jangan, jangan sekarang."
"Tapi Jim, pesanan sudah menggunung." laki-laki tua itu berkata lagi.
"Embrio darinya belum cukup, yang ada pun belum sepenuhnya terbentuk sempurna."
"Apa lagi yang kurang? kromosomnya sudah kau padukan kan?"
"Jangan sekarang." Jim berkata dengan datar, yang lain hanya terdiam.
"2 hari Jim, cobalah selesaikan dalam 2 hari." Lelaki tua itu membalikkan tubuhnya dan kedua orang berambut pirang itu mengikuti dan sesaat kemudian hanya ada dia dan Jim. Keadaan sangat hening.
"Halo number 23," Jim duduk disamping ranjangnya, dan tersenyum. Dia sangat menyukai senyum orang ini, pada saat orang ini tersenyum hatinya terasa hangat dan kamar ini tidak terasa begitu dingin lagi.
"Maaf, hari ini aku tidak bawa apa-apa, tidak sempat." katanya lagi
"2 hari lagi 23, mereka akan mengoperasi kamu...pertama-tama mereka akan mengambil kornea matamu untuk nenek gila di Brussels. Lalu tulang sumsum milik mu akan diterbangkan ke Arizona, ginjalmu sepertinya akan diterbangkan ke Srilanka...dan yang lainnya akan disimpan untuk pesanan selanjutnya.
....
1 comment:
like it already.
gak muji banyak ah
ntar lo ge-er
wuahahhaha
males
Post a Comment