Saturday, September 1, 2007

Number 23 part dos

Dia menghela nafas panjang.

Perutnya lapar. Sekali lagi dia lupa makan siang. Herb bilang, itu adalah salah satu dosanya sebagai peneliti. Biasanya dia memang sering sekali melewati jam makan siang. Tapi akhir-akhir ini dia malah lupa kapan terakhir kali dia makan.

Dia melangkah ke ruangan penelitiannya. Kertas-kertas berisikan rumus-rumus empirikal dan rumus-rumus lain ciptaannya berserakan diantara tabung-tabung.

Dia tidak pernah menyangka, penelitian yang berawalkan dari sebuah keinginan murni untuk menyelamatkan adik perempuannya membawanya ke sebuah proyek human genome. Proyek cloning yang dia teruskan dari profesornya semasa dia kuliah dulu.

Gaby, adik perempuannya, memiliki salah satu penyakit genetika turunan, Cystic Fibrosis. Suatu penyakit yang membuat Gaby sulit bernafas, disebabkan oleh produksi enzim yang tidak cukup dan lendir yang terus menerus hadir di paru-paru. Berpuluh-puluh kali Gaby masuk rumah sakit karena infeksi paru-paru.

Hatinya perih melihat adiknya yang selalu tersengal-sengal. Penyakit kutukan kata orang, entah darimana datangnya.

Ayah dan Ibu, termasuk dirinya tidak terlahir dengan diagnosa seperti itu. Namun Gaby yang selalu tersenyum, tes keringat Gaby menunjukan bahwa gen CFTRnya bermutasi dan menyebabkan kedua gen CFTR di tubuh Gaby berhenti bekerja.

Setiap kali dia mengingat Gaby, hatinya selalu panas. Penuh dengan amarah.

Apa Tuhan itu ada?

Kenapa dia memberikan Gaby penyakit itu? Bayi kecil tanpa dosa, terlahir dengan membawa penyakit, terdiagnosa dengan Cystic Fibrosis sama saja dengan vonis hukuman mati.

Namun ada yang lebih perih dari sekedar kemarahan yang meluap. Hatinya sakit ketika dia mengingat adiknya yang selalu bertanya, 'Kak, Glasgow itu seperti apa sih?' atau saat dia melihat mata adiknya yang berbinar melihat seorang atlit ice skating menari dengan elegan di dalam layar TV, dan binar-binar itu punah dengan seketika pada saat Gaby menyadari dia tidak akan bisa melakukan itu.

Ada yang lebih perih dari sekedar kemarahan, itu adalah perasaan tak berdaya. Ketidakberdayaan-nya untuk menyangkal takdir adiknya, membuat dia mengikuti jalur kedokteran dan mengakhirinya di jalur peneliti.

Dia selalu menjadi nomor satu. Bukan karena kepandaiannya atau bukan karena dia dikarunia IQ yang super jenius. IQnya hanya diambang rata-rata manusia biasa. Namun dia selalu menjadi nomor satu karena keseriusannya.

Di sekolah menengah, pada saat anak-anak lain sibuk bersosialisi dan mengejar gadis gadis, dia akan berada di perpustakaan, menelaah dan menelan artikel-artikel, buku-buku, tesis dari para professor. Keseriusannya menjadi salah satu faktor mengapa tingkat konsentrasinya begitu tinggi. Keseriusannya telah mematahkan hati beberapa gadis ketika dia memilih untuk diam dan membaca buku. Keseriusannya pula lah yang menyebabkan rambutnya memutih. Dan pada saat dia berumur 20 tahun, rambutnya pun perak sempurna. Orang-orang di kampus mengenalnya dengan sebutan Silver Jim.

Di masa kuliah, keseriusan dan keteguhan hatinya untuk mencari penyembuh untuk Gaby, membuat salah satu dari profesor ilmu alamnya tertarik membaca ide dari thesisnya dan menariknya untuk menjadi salah satu kru di proyek cloning rahasia negara. Proyek cloning yang berkapitalkan jutaan dollar. Human Genome project.

Lima tahun lamanya dia, professornya dan kru human genome project mencari cara untuk mengkopi sel-sel manusia. Namun pasangan jutaan gen di tubuh manusia terlalu kompleks untuk dikopi. Mereka tidak pernah putus asa. Tapi negara tidak sesabar para peneliti. Kegagalan demi kegagalan dalam eksperimentasi, menyebabkan kematian untuk beberapa manusia yang berani mengikuti percobaan terapi genetik mereka. Beberapa negara asing lainnya membuat keputusan suara bulat, bahwa kloning itu melanggar kode etika manusia yang paling dasar. Jutaan dana terus dialirkan oleh negara namun hasilnya tetap nihil. Tahun ke-enam proyek itu resmi ditutup. Dua bulan setelah proyek itu ditutup, Gaby meninggal dunia.

Entah harus merasakan perasaan yang seperti apa, Jim pun tidak tahu. Di tengah-tengah frustrasinya, dia memutuskan untuk pergi keliling dunia, Frankfurt, Edinbourgh, Nepal, Bangkok, Umbria, Latvia, Jordania. Dia kehilangan alasan untuk hidup. Kehilangan tujuan untuk hidup, karena dirinya telah dikhianati tangan-tangan takdir nan kejam. Diapun serasa kembali lagi ke masa lalu untuk meraih kesenangan yang belum pernah dia rasakan.

Mereguk kenikmatan duniawi. Wanita-wanita tercantik yang belum pernah dia sentuh. Minuman keras termahal, Grand Marnier, Grand Cognac, Bruichladdich, whiskey berumur 40 tahun yang termahal yang pernah dia minum. Absinthe, minuman paling keras yang dia pernah reguk yang membuat dunia serasa berputar dengan dirinya sebagai poros.

Obat-obatan yang legal pada saat dia mengunjungi negeri kincir angin. Acid, LCD, Ecstasy, Kokain. Semuanya dia reguk. Mungkin itu bentuk dari frustasi tapi mungkin juga itu bentuk bunuh diri pasif, karena dia sendiri belum berani untuk membeli sebuah revolver untuk ditembakkan ke kerongkongannya. Siang menjadi malam, malam menjadi siang. Diantara malam-malam penuh dengan kekosongan dia menyedot bubuk-bubuk putih kokain diantara lekukan-lekukan tubuh wanita wanita tanpa nama.

Kegilaan itu berlangsung selama kurang lebih setengah tahun sampai pada akhirnya dia membuka emailnya. Di inboxnya tertulis nama professor Wickham dan subject bertuliskan Genome. Tiga jam setelah dia membaca email itu, dia mengepak tas punggungnya, meninggalkan hotel kecil di Meksiko dan memesan tiket ke Ukraina. Tujuan selanjutnya adalah Odessa.

Sesampainya dia di Odessa, dia menuju sebuah kafe kecil di kota pelabuhan itu, dan didalam kafe buluk itu dia melihat sosok yang dia kenal. Professor Wickham, professornya semasa kuliah dan supervisornya dalam proyek human genome.

"Jim, hahaha, aku tahu kau pasti datang." Prof. Wickham menyambutnya dengan gelak tawa dan sebotol rum yang hampir kosong. Dia belum pernah melihat professor Wickham di luar jas putih laboratorium, tapi kali ini Wickham memakai mantel ringan berwarna coklat tua dari bahan suede. Celana bermotifkan kotak-kotaknya tidak bisa menyembunyikan perut tambun professor Wickham.

"Demi Tuhan Jim, ada apa denganmu?"

Jim hanya mengangkat sebelah alisnya untuk menyapa professor Wickham, dia pun duduk dan mengisi gelas yang ada di meja dengan rum. Jim yang biasa tampil rapih, terlihat berantakan dengan janggut yang sudah lama tidak dia cukur. Warna janggutnya yang coklat kontras dengan rambut peraknya.

"Dan kau pun minum sekarang?"

"Yah, apa gunanya sober jika tidak ada yang perlu diteliti."

"Sedikit kesenangan memang bagus untuk tubuh dan pikiran Jim, kau memang pantas mendapatkannya setelah semua jerih payahmu."

"Dengar Jim, aku memulai proyek genome ku sendiri. Ada beberapa penemuan yang aku temukan selama enam bulan terakhir ini."

"Tapi bagaimana ca-"

"Gampang Jim, begini, dana yang waktu itu diberikan oleh pemerintah, tidak semuanya aku gunakan. Untuk jaga-jaga seandainya mereka menghentikan penelitian kita. Dengar baik-baik, proyek ini akan tetap jadi rahasia. Aku memerlukan seseorang yang berdedikasi sepertimu. Apakah kau mau melanjutkan proyek ini?"

Jim terdiam. Proyek Genome yang berlanjut. Hasilnya tetap tidak diketahui, dan adiknya Gaby sudah meninggal. Apa lagi gunanya? Jika proyek ini gagal sekali lagi dunianya akan berputar-putar seperti neraka.

"Kenapa kau tidak seyakin dulu? Dengar aku tahu apa yang terjadi dengan adikmu. Begini Jim, jika proyek ini berhasil. Kau sendiri tahukan apa artinya? Kita menjadi pencipta. Dan yang lebih penting lagi, semua penyakit 'kutukan' bisa disembuhkan. Tidak ada lagi penyakit-penyakit seperti Cystic Fibrosis dan sampah-sampah seperti itu. Untuk kali ini, kita bisa melawan takdir Jim."

Dia masih terdiam. Takdir. Sudah menjadi musuh alami baginya.

"Baiklah, aku harus melihat penemuan barumu dulu."

"Haaahaaa hahaaaha...semangat yang menakjubkan Jim, mari menuju laboratorium setelah botol rum ini habis. Cheers" dan setelah mereka bertoast dan menghabiskan rum terakhirnya mereka pun pergi menuju laboratorium bawah tanah professor Wickham.

1 comment:

anonymous said...

anjritt...buset
masi muda kok pikirannya udah pelik non...

ckckck...bukan bacaan wanita perawan nich...

bageusss bageussss...
pinter nian temankoe satu ini....