Dulu sekali....
Gue percaya akan adanya Tuhan, gue bahkan termasuk orang yang punya (faith) dan a (believer)...
Sekarang,
Gue terus bertanya
Apa yah...sepertinya pikiran manusia itu racun dan obat pada saat yang sama.
Seorang manusia yang gak berpikir, biasanya mengikuti aturan karena itulah yang dia rasa benar...tapi darimana dia tahu itu benar? Tapi setidaknya dengan cara mengikuti itu, dia terbebas dari moral dilema.
Lalu seberapa banyak sih pengetahuan bisa meracuni pikiran? Masalah dengan pengetahuan itu sendiri, semakin kita tahu, semakin kita tidak tahu. Dan karena ketidak tahuan itulah kita jadi ingin selalu mencari tahu.
Sial
Kayanya bentar lagi gue gila deh. Ternyata Sofi bener. "Ati-ati may, kalo belajar filosofi."
Aristotle bilang...semua makhluk punya tujuan sendiri. Dan cuma dengan memenuhi tujuan itu lah dia bisa menjadi suatu manusia yang sepenuhnya. Contoh: batu. Dengan diam, kokoh dan membatu itulah batu bisa disebut sebagai batu. Terus argumennya berlanjut; karena manusia itu adalah makhluk yang rasional, maka dari itu, manusia bisa menjadi manusia yang seutuhnya kalau dia berhasil menggunakan kerasionalannya tersebut. (I.e. Pikiran/Otak/Logis).
Sial
Terus tujuan gue ada di dunia ini apa?
Kalau argumen Sofi...ya untuk melakukan kebaikan dan menyembah Dia.
Andrew bilang...manusia ada di dunia ini karena purely chance; maksudnya...karena ada sel telur dan sperma. Itu doank ga ada alesan lainnya
Argumen nenek...sepertinya untuk mencari cinta?
Argumen dari gita? Mungkin gumaman-gumaman tertentu tentang hal-hal tertentu (Coba ini kalo ada waktu lo isi git).
Tapi dari ribuan sel telur dan ribuan sperma emak dan bapak gue, yang terkuat, dan tercepat adalah gue, maka dari itu yang jadi adalah gue. Seandainya sperma lain yang lebih cepat....outcomenya apaan yah? Apakah gue bakal jadi gue yang seperti sekarang? Apa jalan ceritanya bakalan berbeda yah?
Jiwa memang cuma satu
Dia yang jadi penggerak dan mesin
Tubuh sekedar alat
Kata-kata yang tertera di dinding gym di uni;
"With exerce, you bring out the god in you"
Masuk akal. Karena biasanya setelah melakukan olahraga rutin dan berdisiplin diri, stamina jadi kuat. Imej tubuh jadi indah. Apa itu bukannya mengeluarkan imaji Tuhan di dalam tubuh? Kuat dan Indah. A picture of perfection. Imaji yang sangat dekat dengan Tuhan.
Bagaimana dengan mencipta?
Kehebatan manusia dengan mencipta juga mungkin hanya 0.00001 dari kehebatan Tuhan mencipta. Tapi itu aja udah bisa membuat gue menarik nafas takjub, jantung gue berhenti satu detakan, dan bulu kuduk gue merinding.
Pencipta internet misalnya yg asal muasal bisa dikilas balik ke bagian pertahanan amerika serikat. Gila. Internet itu Jenius. Pertukaran informasi yang bisa dengan cepat dari bagian belahan dunia lain dalam hitungan detik (well, itu tergantung koneksi internet provider lo sendiri juga sih). Itu adalah ciptaan hebat. Dan dengan mencipta, lagi-lagi manusia mengeluarkan Tuhan dalam dirinya.
Waktu musisi mencipta lagu...paduan notasi yang begitu indah bermain-main dalam keheningan dan menjadi suatu yang utuh yang disebut musik. Itu ciptaan manusia juga.
Tapi lagi lagi...gue bertanya tujuan gue di dunia ini apa?
Dunia gak akan berhenti berputar dengan gak adanya gue
Dan dunia juga gak berputar lebih cepat dengan adanya gue
Kalau sofi sudah punya tujuan hidup yaitu dengan menyembah dia
Nenek tujuan hidupnya adalah menemani orang yang spesial, menjadi teman sekaligus kekasih orang itu, menjadi support untuk orang itu ..kalau mau minjem liriknya Second Hand Serenade, "I was born to tell you that I love you" mungkin itu tujuan lo hidup nek? Koreksi lah kalau gue salah.
Andrew tujuan hidupnya yah dengan menjalani hidup itu sendiri.
Lalu, bagaimana dengan gue?
"The unexamined live is not worth living."
~ Aristotle
A blog for a self remainder, medium of expression, contemplation and memory database for all the information I've encounter
Friday, August 31, 2007
Tuesday, August 28, 2007
Odyssey

Caught me on your net
In a deep ocean where I was alone
Someone left me behind
Sail away with what was left
Cold, cold night
Alone and stun
Waiting to drawn
Then you swam along
Mesmerizing and pulled me along
Shield me with warmth
From the finger tips
Through every little strand of hair
Sweet and tender
Whispered softly
In the darkness
I'm not an island for you to moor your heart
Only here for a while
Short and sweet
Don’t let it passed
This moment is us
Then put me back to the ocean
Back to the darkest night
Let me swim under the nothingness
Because no one can love me the way he loved me
Mourning for the lost of my reflection in his eyes
And I'm not an island for you to moor your heart
In a deep ocean where I was alone
Someone left me behind
Sail away with what was left
Cold, cold night
Alone and stun
Waiting to drawn
Then you swam along
Mesmerizing and pulled me along
Shield me with warmth
From the finger tips
Through every little strand of hair
Sweet and tender
Whispered softly
In the darkness
I'm not an island for you to moor your heart
Only here for a while
Short and sweet
Don’t let it passed
This moment is us
Then put me back to the ocean
Back to the darkest night
Let me swim under the nothingness
Because no one can love me the way he loved me
Mourning for the lost of my reflection in his eyes
And I'm not an island for you to moor your heart
Sexual Innuendo
Warning: The content of this blog
might offend some people.
R18, contains sexual languange.
Read at your own expense.
"Fuck off!"
"No you, fuck off!"
"Get outta my way you freakin bitch."
"Who you callin bitch, cunt?"
"Shuddup and just fuck off!"
"No, you fuck off!"
"Fuck you!"
"No, Fuck YOU!"
"Oh, so you want to fuck me?"
".....maybe..."
"....."
"Well, you're not too bad your self gorgeous."
"And, you got some spunky ass there."
"Say, ...my place or yours?"
" Mine, cuz I got the video camera."
"Great, shall we?"
"And we shall..."
"By the way, you happen to like doggy?"
"Even better, get some extra boys will ya?"
"Sure...."
"Fuck off!"
"No you, fuck off!"
"Get outta my way you freakin bitch."
"Who you callin bitch, cunt?"
"Shuddup and just fuck off!"
"No, you fuck off!"
"Fuck you!"
"No, Fuck YOU!"
"Oh, so you want to fuck me?"
".....maybe..."
"....."
"Well, you're not too bad your self gorgeous."
"And, you got some spunky ass there."
"Say, ...my place or yours?"
" Mine, cuz I got the video camera."
"Great, shall we?"
"And we shall..."
"By the way, you happen to like doggy?"
"Even better, get some extra boys will ya?"
"Sure...."
Saturday, August 11, 2007
Number 23
Dia terbangun.
Matanya mengerjap-ngerjap terbuka
Dia menarik nafas..
Paru-parunya terasa berat dan terhimpit
Setiap oksigen yang dia hirup serasa bagaikan jarum tajam yang menusuk
Dia mencoba untuk menggerakkan kakinya....mati rasa.
Bagaimana dengan tangannya....dia tak merasakan apa-apa
Masker dimulutnya terlihat putih oleh uap nafasnya sendiri
Dia melihat sekeliling
Ruangan ini...ruangan yang sering dia lihat dalam mimpinya
Ruangan biru penuh dengan mesin-mesin aneh yang dia sering lihat, namun tak tahu apa namanya. Di samping kanan dan kirinya terlihat makhluk-mahluk terbaring tertidur, semuanya berwajah serupa.
Di luar terdengar langkah-langkah kaki dan tidak berapa lama kemudian orang-orang berbaju putih itu masuk. Ya, dia sering melihat orang-orang ini dalam mimpinya. Salah seorang dari mereka sering datang melihat kami. Namun entah kenapa orang itu sering datang ke ranjangnya, menceritakan dongeng-dongeng indah tentang suatu tempat yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Orang itu bercerita tentang air terjun raksasa, tentang kincir raksasa di tengah kebun bunga yang luas. Dia juga bercerita tentang wanita-wanita mistis yang memakai memakai bedak putih dan bersembunyi di balik kipas-kipas kayu.
Terkadang orang itu membawa minuman, dan orang itu memberikannya segelas dari minuman itu. Rasanya asam, pahit, dan manis. "Ini Chardonay, Number 23...dari perkebunan anggur di Meksiko...bukan dari Paris...kamu tentu ingat ceritaku tentang Paris, dimana orang-orang hanya berkerja sampai tengah hari dan menutup tokonya begitu pukul 3. Mereka memang pembuat anggur paling hebat di dunia, tapi aku lebih suka Chardonay dari Meksiko, Number 23...karena dari setiap anggur yang mereka buat, ada cerita tentang itu."
Terkadang orang itu juga memainkan musik untuknya. Melodi-melodi lembut keluar dari sesuatu yang berwarna ke-emasan. Setelah orang itu selesai bermain musik orang itu akan meletakkan alat musik emas itu dan membelai rambutnya. "Kamu lihat ini 23? warnanya sama seperti rambutmu. Alat menakjubkan ini namanya Saxophone. Aku berani bertaruh, kamu pasti senang jika bisa memainkan alat musik ini. Miles Davis...orang itu sangat hebat, jauh lebih hebat daripada aku. "
"Kamu tahu 23? Kemarin number 20 sudah tak ada lagi. Ya, kami harus membiarkannya pergi, kami menerima banyak permintaan ginjal dari Hamburg...kami harus mengambil kedua ginjalnya. Aku sangat takut 23....karena sebentar lagi giliran kamu, mereka bercerita tentang permintaan kornea dari Brusells. Dan matamu yang indah ini...wanita gila itu menginginkan warna abu-abu dinginmu. Tapi tenanglah 23, aku tak akan membiarkannya terjadi. "
Matanya mengerjap-ngerjap terbuka
Dia menarik nafas..
Paru-parunya terasa berat dan terhimpit
Setiap oksigen yang dia hirup serasa bagaikan jarum tajam yang menusuk
Dia mencoba untuk menggerakkan kakinya....mati rasa.
Bagaimana dengan tangannya....dia tak merasakan apa-apa
Masker dimulutnya terlihat putih oleh uap nafasnya sendiri
Dia melihat sekeliling
Ruangan ini...ruangan yang sering dia lihat dalam mimpinya
Ruangan biru penuh dengan mesin-mesin aneh yang dia sering lihat, namun tak tahu apa namanya. Di samping kanan dan kirinya terlihat makhluk-mahluk terbaring tertidur, semuanya berwajah serupa.
Di luar terdengar langkah-langkah kaki dan tidak berapa lama kemudian orang-orang berbaju putih itu masuk. Ya, dia sering melihat orang-orang ini dalam mimpinya. Salah seorang dari mereka sering datang melihat kami. Namun entah kenapa orang itu sering datang ke ranjangnya, menceritakan dongeng-dongeng indah tentang suatu tempat yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Orang itu bercerita tentang air terjun raksasa, tentang kincir raksasa di tengah kebun bunga yang luas. Dia juga bercerita tentang wanita-wanita mistis yang memakai memakai bedak putih dan bersembunyi di balik kipas-kipas kayu.
Terkadang orang itu membawa minuman, dan orang itu memberikannya segelas dari minuman itu. Rasanya asam, pahit, dan manis. "Ini Chardonay, Number 23...dari perkebunan anggur di Meksiko...bukan dari Paris...kamu tentu ingat ceritaku tentang Paris, dimana orang-orang hanya berkerja sampai tengah hari dan menutup tokonya begitu pukul 3. Mereka memang pembuat anggur paling hebat di dunia, tapi aku lebih suka Chardonay dari Meksiko, Number 23...karena dari setiap anggur yang mereka buat, ada cerita tentang itu."
Terkadang orang itu juga memainkan musik untuknya. Melodi-melodi lembut keluar dari sesuatu yang berwarna ke-emasan. Setelah orang itu selesai bermain musik orang itu akan meletakkan alat musik emas itu dan membelai rambutnya. "Kamu lihat ini 23? warnanya sama seperti rambutmu. Alat menakjubkan ini namanya Saxophone. Aku berani bertaruh, kamu pasti senang jika bisa memainkan alat musik ini. Miles Davis...orang itu sangat hebat, jauh lebih hebat daripada aku. "
"Kamu tahu 23? Kemarin number 20 sudah tak ada lagi. Ya, kami harus membiarkannya pergi, kami menerima banyak permintaan ginjal dari Hamburg...kami harus mengambil kedua ginjalnya. Aku sangat takut 23....karena sebentar lagi giliran kamu, mereka bercerita tentang permintaan kornea dari Brusells. Dan matamu yang indah ini...wanita gila itu menginginkan warna abu-abu dinginmu. Tapi tenanglah 23, aku tak akan membiarkannya terjadi. "
Dan orang itu pun berlalu setelah memberikan kecupan di keningnya. Dia sudah tidak pernah merasakan kehadiran orang itu lagi.
"Jim, yang ini sudah sadar."
Dia mendengar suara berat dan serak dari laki-laki bertubuh tinggi. Janggut putihnya menghiasi seluruh wajahnya.
"Oh, number 23."
"Si cantik number 23."
Kedua laki-laki lain mendekati dia. Mereka berdua berwajah serupa. Rambut ikal berwarna ke-emasan. Mata hijau seperti emerald.
"Tom, coba cek tekanan darahnya." Satu dari laki-laki pirang itu meraih tangannya.
"Detak jantungnya sempurna Herb," kata yang satu lagi.
Kedua orang laki-laki sibuk memasangkan alat-alat aneh di tubuhnya.
"Hebat, kamu memang pencipta yang hebat Jim. Yang ini benar-benar sempurna tanpa cela." kata laki-laki tua berjanggut putih itu. "Kapan kita akan memulai operasi? Nenek gila itu sudah tak sabar mendapatkan mata number 23."
Orang yang mereka panggil Jim itu mendekatinya. Orang itu, laki-laki yang sering menceritakan dongeng-dongeng indah di malam hari. Rambutnya ikal, berwarna perak, tubuhnya tinggi tetapi kurus, terlalu kurus untuk sesorang dengan ketinggian seperti itu.
Jim sampai di ranjangnya. Kedua orang berambut pirang itu mundur.
"Jangan, jangan sekarang."
"Tapi Jim, pesanan sudah menggunung." laki-laki tua itu berkata lagi.
"Embrio darinya belum cukup, yang ada pun belum sepenuhnya terbentuk sempurna."
"Apa lagi yang kurang? kromosomnya sudah kau padukan kan?"
"Jangan sekarang." Jim berkata dengan datar, yang lain hanya terdiam.
"2 hari Jim, cobalah selesaikan dalam 2 hari." Lelaki tua itu membalikkan tubuhnya dan kedua orang berambut pirang itu mengikuti dan sesaat kemudian hanya ada dia dan Jim. Keadaan sangat hening.
"Halo number 23," Jim duduk disamping ranjangnya, dan tersenyum. Dia sangat menyukai senyum orang ini, pada saat orang ini tersenyum hatinya terasa hangat dan kamar ini tidak terasa begitu dingin lagi.
"Maaf, hari ini aku tidak bawa apa-apa, tidak sempat." katanya lagi
"2 hari lagi 23, mereka akan mengoperasi kamu...pertama-tama mereka akan mengambil kornea matamu untuk nenek gila di Brussels. Lalu tulang sumsum milik mu akan diterbangkan ke Arizona, ginjalmu sepertinya akan diterbangkan ke Srilanka...dan yang lainnya akan disimpan untuk pesanan selanjutnya.
....
Wednesday, August 8, 2007
Ayahku, sales vakum dan virus komputer
Tik tak tik tuk...
Aku sedang asyik masyuknya mengetik percakapan online waktu dari luar rumah terdengar suara- suara berat sedang berbicara, yang satu, aku mengenalinya, tak lain dan tak bukan dari suara bariton milik ayahku sendiri. Dan yang satu lagi, dengan volume dan tempo yang lebih cepat, adalah suara milik laki-laki lain yang berlogat batak.
Karena rasa penasaran, dan karena memang sudah bosan, aku pun mengakhiri pembicaraan dengan kakek-kakek tua lawan bicaraku dengan mengancam akan melaporkan dia ke kapolres atas tuduhan fedofilia berencana terhadap anak di bawah umur. Akupun bergegas mengintip ke luar halaman.
Diluar ayahku berdiri dengan celana pendek favoritnya yang jauh terlalu pendek (sepertinya itu celana olahraganya waktu dia masih SMA). Dengan kacamata kecilnya, ayah menatap laki-laki berlogat batak itu dengan kecurigaan yang amat sangat.
"Ehhh, Bapak, jangan curiga dulu bapak, ini yang saya bawa ini, dijaminn pasti bikin istri bapak senang." laki-laki yang lain itu tersenyum lebar.
"Heh, sembarangan. Maksud kamu istri saya tidak senang sekarang, kamu tau darimana, ada main sama istri saya?" hardiknya dengan tidak senang, tangannya dilipatnya di atas perut yang sudah tambun.
"Lucu si Bapak ini, bukan begitu maksud saya bapak, ini yang saya bawa adalah vacuum cleaner abad 21. Dijamin bisa bikin istri bapak senang waktu bersih-bersih rumah." Sales vacuum itu pun membuka kotak besar yang ada dihadapannya. Ayah hanya menatap penuh kecurigaan.
"Lihat bapak, ini dual sistim...bisa pakai listrik bisa pakai batere pula, bapak. Belum lagi ini, lihat didalamnya, begitu besar ruangnya. Bisa untuk sedot satu, dua, atau bahkan tiga rumah sekaligus." Sales itu dengan mahirnya membolak-balik vakum cleaner berukuran raksasa dan menunjukkan tempat penyimpanan kantung debu.
"Ah, abad 21 apanya...semua vakum juga bisa seperti itu jaman sekarang." Kata ayah sambil mengambil vakum cleaner dari tangan si sales. Ayahpun mengamati dengan seksama.
"Nahh, itu dia bapak, ada alasan kenapa kita panggil vakum ini vakum abad 21. Bapak liat selang penyedot ini?" masih dengan logat bataknya yang kental sales itu mengeluarkan selang penyedot yang ukurannya tak kalah besarnya dari vakum itu sendiri. Pandangan ayahku beralih dari vakum ke selang tersebut.
Sukses menarik perhatian ayahku, sales itu pun kembali melanjutkan, "penyedot ini berukuran besar karena ada alasan tertentu bapak. Vakum ini bisa menyedot, kering dan basah, jadi misalnya cangkir kopi bapak tumpah, tidak perlu lagi menyapu beling dan mengepel, semuanya bisa disedot dengan instan, bapak. Lalu....bapak tau kan virus komputer?"
"Iyaa, pastilah, pertanyaan kamu kok bodoh," balas ayah.
"Naaah itu dia bapak, vakum ini bisa juga menyedot virus komputer. Jadi bayangkan anda sedang menggunakan komputer bapak, lalu ada tulisan...'awas virus' bapak tidak perlu panik. Tinggal ambil vakum ini, nyalakan powernya, lalu, tinggal bapak sedot...dalam sekejap komputer bapak bersih dari virus. Bagaimana? Abad 21 kan bapak?"
"Bodoh kamu, virus komputer kok disedot pake vakum. Ah sudahlah, capek saya meladeni kamu, nanti kalau mau jual vakum lagi, teliti dulu. Virus komputer kok disedot pake vakum,
ada juga dibawa ke dokter, minta antibiotik, ah orang jaman sekarang mau jadi apa..gitu aja nggak tau."
Akupun hanya bisa berjengit.
Friday, August 3, 2007
Gagal moral
Jam 2 siang.
Hari ini matahari bersinar terik, untungnya nggak dingin. Gue baru aja selesai kuliah 4 jam non-stop, full on mata kuliah project management sama kelas filosofi. Sudah bosan disesaki dengan teori-teori untuk cari duit dan teori-teori utilitarianism bersama satu group yang selalu membisu kalau ada aktifitas group...(sialan, coba kalau itu otak gak dipake, mendingan di transplan aja deh buat nambahin kapasitas memori otak gue yang gak seberapa besar ini.)
Perut keroncongan, dari pagi belom makan...gak sempet...lagi-lagi karena ada group meeting, yang 2 dari anggotanya lupa kalau hari ini tuh ada group meeting, dan gue harus bangun pagi sia-sia. Sambil memaki-maki dalam hati dan membayangkan bakmi goreng di rumah, dan tempat tidur yang super empuk, gue nunggu di tengah jalan. Nunggu lampu merah nyala, dan nunggu tanda "manusia kecil" berwarna hijau nyala supaya gue bisa nyebrang jalan.
Dari arah berlawanan, ada gadis muda kira-kira sebaya sama gue, atau mungkin lebih muda 1 tahunan, berjalan, memakai kacamata hitam dan bertongkat. Gadis itu buta. Dia menyebrang jalan sedikit tertatih. Gue bisa mengendus bau-bau ketakutan dan ketidak pastian dari bahasa tubuhnya, tapi dia terus berjalan menyebrang. Dari tempat dia berjalan lampu sudah hijau, tapi dari tempat gue berdiri, lampu masih merah. Beberapa detik kemudian dia pun sampai di tempat gue berdiri dan dia pun bingung, haruskah menyebrang atau menunggu. Ada satu mobil yang datang dan melambatkan kecepatan....pengemudi itu dengan sabarnya menunggu gadis itu untuk lewat. Gadis itu menunggu dan meraba-raba jalan dengan tongkatnya.
Gue cuma berdiri memandangi, 2 atau 3 orang di sekitar gue juga cuma memandang, dan saat gue lagi mikir...perlu dibantu gak ya?...seorang lelaki dari kejauhan berjalan cepat menuju gadis itu dan menggapai tangan si gadis, dan membantunya menyebrang.
Idiot. Gue cuma bisa mengutuki diri sendiri.
Bener-bener idiot ... Maya maya... kenapa gak langsung aja sih nolong tu cewek nyebrang jalan, jelas-jelas gue lebih deket daripada tu cowok, tapi kok cuma berdiri aja...itu cowok dari jauh udah lari-lari cuman buat bantu itu cewek buat nyebrang...
Hari ini...moralitas gue mengkhianati segala prinsip. Dengan moral rendah seperti ini...apa gunanya menjejali otak dengan segala macam teori ideal tentang dunia.
Hari ini matahari bersinar terik, untungnya nggak dingin. Gue baru aja selesai kuliah 4 jam non-stop, full on mata kuliah project management sama kelas filosofi. Sudah bosan disesaki dengan teori-teori untuk cari duit dan teori-teori utilitarianism bersama satu group yang selalu membisu kalau ada aktifitas group...(sialan, coba kalau itu otak gak dipake, mendingan di transplan aja deh buat nambahin kapasitas memori otak gue yang gak seberapa besar ini.)
Perut keroncongan, dari pagi belom makan...gak sempet...lagi-lagi karena ada group meeting, yang 2 dari anggotanya lupa kalau hari ini tuh ada group meeting, dan gue harus bangun pagi sia-sia. Sambil memaki-maki dalam hati dan membayangkan bakmi goreng di rumah, dan tempat tidur yang super empuk, gue nunggu di tengah jalan. Nunggu lampu merah nyala, dan nunggu tanda "manusia kecil" berwarna hijau nyala supaya gue bisa nyebrang jalan.
Dari arah berlawanan, ada gadis muda kira-kira sebaya sama gue, atau mungkin lebih muda 1 tahunan, berjalan, memakai kacamata hitam dan bertongkat. Gadis itu buta. Dia menyebrang jalan sedikit tertatih. Gue bisa mengendus bau-bau ketakutan dan ketidak pastian dari bahasa tubuhnya, tapi dia terus berjalan menyebrang. Dari tempat dia berjalan lampu sudah hijau, tapi dari tempat gue berdiri, lampu masih merah. Beberapa detik kemudian dia pun sampai di tempat gue berdiri dan dia pun bingung, haruskah menyebrang atau menunggu. Ada satu mobil yang datang dan melambatkan kecepatan....pengemudi itu dengan sabarnya menunggu gadis itu untuk lewat. Gadis itu menunggu dan meraba-raba jalan dengan tongkatnya.
Gue cuma berdiri memandangi, 2 atau 3 orang di sekitar gue juga cuma memandang, dan saat gue lagi mikir...perlu dibantu gak ya?...seorang lelaki dari kejauhan berjalan cepat menuju gadis itu dan menggapai tangan si gadis, dan membantunya menyebrang.
Idiot. Gue cuma bisa mengutuki diri sendiri.
Bener-bener idiot ... Maya maya... kenapa gak langsung aja sih nolong tu cewek nyebrang jalan, jelas-jelas gue lebih deket daripada tu cowok, tapi kok cuma berdiri aja...itu cowok dari jauh udah lari-lari cuman buat bantu itu cewek buat nyebrang...
Hari ini...moralitas gue mengkhianati segala prinsip. Dengan moral rendah seperti ini...apa gunanya menjejali otak dengan segala macam teori ideal tentang dunia.
Bahkan untuk membantu orang buta nyebrang jalan aja, gue masih lama mikirnya.
Bener-bener idiot.
Bener-bener idiot.
There's always a price...for beauty
Rambut...check
Mata...check
Bibir...check
Mantel bulu....check
Skinny Jeans....check
Boots..check
Tas....check
Ipod...check
Sempurna
"Oh kaca- kaca di dinding, siapakah yang tercantik disini?!"
"Anda tuan putri, bukan hanya tercantik tapi terseksi juga"
Hehehe..saatnya gue keluar, dan menunjukkan pada orang-orang awam di jalan itu, apa itu yang namanya STYLE.
Rambut pirang semiran dan keriting papan pun berkibar di angin pagi...Jalan catwalk gue yang udah beratus-ratus kali disempurnakan di depan kaca sedang di praktekkan, dan berhasil menarik perhatian semua mata memandang...all eyes on me boys...
Nah itu dia bus gue...kayanya mesti lari nih...
Dan tiba-tiba...sesaat gue ngerasa jadi Neo di film matrix....dalam slow motion adegan sebuah film, dan hidup gue dari masa kecil sampai sekarang berlalu di depan mata... flash back...ada mama ada papa....waktu putus sama Hari...dan si botak dari toko Paris Texas minggu lalu...sekarang gue baru ngeh dia bilang apa waktu gue selesai bayar skinny jeans yang sekarang gue pake ini....
Dia bilang, "Non...yakin itu skinny jeans nggak kekecilan buat non?"
SHIT
GUBRAK
....yaaahhh....
Hancurlah riwayat skinny jeans abu-abu yang gue beli pake duit gaji sebulan...bret bret bret...robek... pas di bagian yang sudah sewajarnya untuk ditutupi...gak usah dibahas...
Lebih robek lagi image gue...
Jadilah gue penghibur para pekerja-pekerja kantor dan pelajar yang masih ngantuk di oagi hari yang dingin
Kayanya emang gak bisa lepas dari celana dan kaos gombrong plus sendal jepit deh...
There's always a price...for beauty.
Mata...check
Bibir...check
Mantel bulu....check
Skinny Jeans....check
Boots..check
Tas....check
Ipod...check
Sempurna
"Oh kaca- kaca di dinding, siapakah yang tercantik disini?!"
"Anda tuan putri, bukan hanya tercantik tapi terseksi juga"
Hehehe..saatnya gue keluar, dan menunjukkan pada orang-orang awam di jalan itu, apa itu yang namanya STYLE.
Rambut pirang semiran dan keriting papan pun berkibar di angin pagi...Jalan catwalk gue yang udah beratus-ratus kali disempurnakan di depan kaca sedang di praktekkan, dan berhasil menarik perhatian semua mata memandang...all eyes on me boys...
Nah itu dia bus gue...kayanya mesti lari nih...
Dan tiba-tiba...sesaat gue ngerasa jadi Neo di film matrix....dalam slow motion adegan sebuah film, dan hidup gue dari masa kecil sampai sekarang berlalu di depan mata... flash back...ada mama ada papa....waktu putus sama Hari...dan si botak dari toko Paris Texas minggu lalu...sekarang gue baru ngeh dia bilang apa waktu gue selesai bayar skinny jeans yang sekarang gue pake ini....
Dia bilang, "Non...yakin itu skinny jeans nggak kekecilan buat non?"
SHIT
GUBRAK
....yaaahhh....
Hancurlah riwayat skinny jeans abu-abu yang gue beli pake duit gaji sebulan...bret bret bret...robek... pas di bagian yang sudah sewajarnya untuk ditutupi...gak usah dibahas...
Lebih robek lagi image gue...
Jadilah gue penghibur para pekerja-pekerja kantor dan pelajar yang masih ngantuk di oagi hari yang dingin
Kayanya emang gak bisa lepas dari celana dan kaos gombrong plus sendal jepit deh...
There's always a price...for beauty.
Subscribe to:
Posts (Atom)