Truth
"There are no truth, only interpretation." ~ Nietczhe
Betul. Kebenaran. Apa itu kebenaran? Buang-buang waktu saja mencari kebenaran. Mencari siapa diriku, siapa dirinya, siapa diri dari orang-orang. Buat apa? Orang-orang percaya dengan apa yang mereka mau percaya. Mereka pikir mereka begini, mereka begitu. Beri mereka lingkungan baru, teman baru, buku baru, musik baru, berita baru. Dalam sekejap, mereka tidak tahu lagi siapa dirinya. Ah begitu mudahnya terpetak dengan apa yang selama ini kamu percaya. Mari kita taruhan, kamu akan menjadi orang berbeda pada situasi mendesak. Disitulah terletak siapa kamu sebenarnya. Bodoh. Apa itu kebenaran. Sadarlah.
"People have a bias opinion towards themselves." ~ Freud.
Kamu pikir kamu pintar? Hanya karena kamu tahu sedikit tentang sesuatu. Apakah itu membolehkan kamu untuk menghabiskan waktuku, dengan semua cerita yang kamu baca dari buku? Tidakkah kamu tahu, bahwa aku, sudah membaca buku itu. Kemana saja kamu?
Kamu pikir kamu yang paling malang? Dan tidak ada satupun orang yang mengerti penderitaan kamu? Bangunlah, sadarlah. Hanya karena aku tidak pernah bercerita tentang kemalanganku bukan berarti kamu bisa menghabiskan waktuku mendengarkan ocehan-ocehan negatifmu. Kamu mau tahu pendapatku? Menurutku kamu sangat menyedihkan. Menurutku kamu ingin dikasihani. Menurutku kamu manja. Dunia ini memang tidak adil. Terbiasalah dengan itu. Masih banyak anak-anak kelaparan di Afrika. Penderita-penderita penyakit genetik yang tidak pernah mengeluh. Apa ini? Kamu berceloteh tentang cerita cintamu, sudahlah simpan saja dukamu itu. Aku tidak punya waktu.
Kamu pikir kamu lucu? Untuk apa kamu menceritakan cerita-cerita "lucu" itu? Sangat tidak berkelas dan hambar. Kenapa kamu terdiam? Apakah kamu membiarkan jeda dalam percakapanmu untuk membiarkan aku tertawa? Aku pernah bertemu dengan orang yang lebih lucu daripada kamu. Sudahlah, kamu buang-buang waktu saja.
Maafkan. Bukannya aku angkuh karena tak menyapamu tadi. Aku tahu ada kamu. Aku melihatmu. Dan akupun melihatmu yang melihat diriku. Aku sebenarnya ingin menyapamu. Tapi aku ingat betapa kamu suka sekali menghabiskan waktuku, maka itu aku pura-pura tidak melihat. Tapi tenanglah. Kau bukan yang terbodoh, yang terbodoh sebenarnya adalah aku. Karena aku, baru menyadari siapa kamu yang sebenarnya sekarang. Akulah yang membiarkanmu menghabiskan waktuku.
No comments:
Post a Comment