Happiness is when I wake up and I can do my things slowly without being rushed
Happiness is when I see my father's eyes looking at me with pride
Happiness is when I talk to my friends and we understand each other perfectly and connect spiritually
Happiness is when I don't have to live out other's expectation
Happiness is when I dont live under other's rule
Happiness is when I look at my partner's eyes and all I can see in it is love
Happiness is
When I accept myself for who I am, then nothing else matters
because
You can't capture happiness, it has to come from within
A blog for a self remainder, medium of expression, contemplation and memory database for all the information I've encounter
Tuesday, December 23, 2008
Saturday, November 22, 2008
Tentang Nama*
Saya ituuu yaahhh, sayaaa ("maye bawel ah "terngiang-ngiang hujatan nenek setiap saya ingin bersenang-senang dengan indahnya bahasa, huruf dan kata-kata "baweeeelll")
Oh iya iya...kembali ke topik utama yang belum juga muncul-muncul.
Saya itu paling suka membuka-buka majalah komputer yang isinya duet maut kode html,
css dan ajax web developer dengan guratan-guratan vektor dan 'topeng' cmyk dan rgb
graphix designer. Gambarnya bagus-bagus, membuat hati saya bernyanyi-nyanyi senang.
"Surga duniawi" kata bang Kojak (siapa pula itu Bang Kojak?)
Di kitab suci kode dan vektor itu biasanya artis-artisnya di featured. Ada artis
(baca: seniman bukan selebriti) Italia yang beraliran Japanismo, dengan nama belakang
Satriani misalnya. Ada artis Russia yang beraliran Fontisnimso dengan nama belakang
Trochut misalnya. Ada artis Singapura yang beraliran wood-cut print bernama belakang
Yuen misalnya.
Sebagai orang Indonesia yang ber-expat di negara yang populasi domba-nya lebih banyak
daripada populasi manusianya (heiit bukan Mongolia saudara-saudara)...nama Indonesia
itu begitu orisinal, menarik dan...eksotik?kah?
Di antara nama-nama asing seperti Angelo, Ya Kan, Hibitsu, Radcliffe, Cross,
Bec...tiba-tiba....KURNIAWAN....
Kurniawan. bukankah pemilik namanya begitu mudah untuk ditebak darimana asalnya?
Bukan-kah nama Indonesia itu begitu menarik dan standout jika ditaruh di majalah
asing yang beredar di seluruh dunia yang notabene penduduk aslinya ber-nenek
moyangkan dari Ghaul, Dhanes dan Celtic? (baca: Bule).
Ah, tiba-tiba saya kepingin terkenal, masuk majalah dan kemudian mengganti nama saya
menjadi Sukiyem.
Oh iya iya...kembali ke topik utama yang belum juga muncul-muncul.
Saya itu paling suka membuka-buka majalah komputer yang isinya duet maut kode html,
css dan ajax web developer dengan guratan-guratan vektor dan 'topeng' cmyk dan rgb
graphix designer. Gambarnya bagus-bagus, membuat hati saya bernyanyi-nyanyi senang.
"Surga duniawi" kata bang Kojak (siapa pula itu Bang Kojak?)
Di kitab suci kode dan vektor itu biasanya artis-artisnya di featured. Ada artis
(baca: seniman bukan selebriti) Italia yang beraliran Japanismo, dengan nama belakang
Satriani misalnya. Ada artis Russia yang beraliran Fontisnimso dengan nama belakang
Trochut misalnya. Ada artis Singapura yang beraliran wood-cut print bernama belakang
Yuen misalnya.
Sebagai orang Indonesia yang ber-expat di negara yang populasi domba-nya lebih banyak
daripada populasi manusianya (heiit bukan Mongolia saudara-saudara)...nama Indonesia
itu begitu orisinal, menarik dan...eksotik?kah?
Di antara nama-nama asing seperti Angelo, Ya Kan, Hibitsu, Radcliffe, Cross,
Bec...tiba-tiba....KURNIAWAN....
Kurniawan. bukankah pemilik namanya begitu mudah untuk ditebak darimana asalnya?
Bukan-kah nama Indonesia itu begitu menarik dan standout jika ditaruh di majalah
asing yang beredar di seluruh dunia yang notabene penduduk aslinya ber-nenek
moyangkan dari Ghaul, Dhanes dan Celtic? (baca: Bule).
Ah, tiba-tiba saya kepingin terkenal, masuk majalah dan kemudian mengganti nama saya
menjadi Sukiyem.
Wednesday, November 19, 2008
The survival guide for Indonesian
Green Power
Menjadi hijau bukan cuma sekedar trend 'musiman'. Mungkin kita berpikir kenapa kok tiba-tiba semua orang membicarakan green this and green that. Pemanasan global bukan cuma topik untuk dibicarakan supaya kita terlihat punya tingkat intelejensi, pemanasan global itu sedang terjadi dan kita sebagai manusia, saat ini cuma menerjang ke arah kehancuran.
Penduduk Eropa dan dunia Barat semuanya berusaha keras untuk mengerem pemanasan Global, hanya untuk disia-siakan oleh penduduk Asia.
Entah kesadaran untuk bangsa Indonesia sudah sampai tingkat keseriusan seperti apa, tapi saya cuma tahu satu fakta murni, jika pemanasan global sudah mencapai puncaknya, Indonesia termasuk salah satu pulau-pulau pertama yang bakalan tenggelam duluan.
Bayangkan efeknya...
200 Juta manusia...tenggelam. Makan air. Bayangkan efeknya terhadap kehidupan sosial. Listrik mati. Mau masak makanan pakai api? Apinya di bakar dimana? Mungkin negara kita bakalan jadi negara maritim secara harafiah alias orang-orang bakal hidup di kapal kaya di Kalimantan. (Itu juga kalau orangnya selamat).

Pertanyaan saya sekarang, negara mana yang akan menampung orang segitu banyaknya? Belum lagi hubungan diplomatik luar negeri kita nggak semaju negara-negara lain.
Mungkin kita semua menutup mata, atau merasa isu pemanasan global cuma sebuah cerita dari surat-kabar dan media asing yang ga akan berpengaruh terhadap kita. Fakta murninya; Hanya 10 inci kenaikan level air laut sudah cukup untuk membuat Indonesia menjadi Atlantis versi II. Jangan coba-coba berpikir untuk Imigrasi ke Singapura etc, kontinen Asia Tenggara termasuk kontinen high risk selain negara seperti Fiji, Tonga, Louisiana dan Virginia.
Kiamat mungkin sudah terlalu dekat untuk Indonesia. Kiamat Nabi Nuh style. Noah's Ark.
Kalau sudah begitu saya cuma bisa menyarankan beberapa saran;
1. Bikin perahu, makin kuat makin bagus (kalau bisa ada supply makanan kering yang bisa langsung dimakan tanpa dimasak)
2. Belajar bahasa asing; Pilih negara yang aman ditinggali saat pemanasan global sudah mencapai puncaknya, dan tinggalkan Indonesia sekarang juga.
3. Beli sepatu anti air, baju tahan air
4. Belajar navigasi laut, belajar baca map buat laut.
5. Mulai berpikir orang-orang yang baik terhadap kita, nggak semuanya bisa muat di perahu kan?
Semoga berhasil
Menjadi hijau bukan cuma sekedar trend 'musiman'. Mungkin kita berpikir kenapa kok tiba-tiba semua orang membicarakan green this and green that. Pemanasan global bukan cuma topik untuk dibicarakan supaya kita terlihat punya tingkat intelejensi, pemanasan global itu sedang terjadi dan kita sebagai manusia, saat ini cuma menerjang ke arah kehancuran.
Penduduk Eropa dan dunia Barat semuanya berusaha keras untuk mengerem pemanasan Global, hanya untuk disia-siakan oleh penduduk Asia.
Entah kesadaran untuk bangsa Indonesia sudah sampai tingkat keseriusan seperti apa, tapi saya cuma tahu satu fakta murni, jika pemanasan global sudah mencapai puncaknya, Indonesia termasuk salah satu pulau-pulau pertama yang bakalan tenggelam duluan.
Bayangkan efeknya...
200 Juta manusia...tenggelam. Makan air. Bayangkan efeknya terhadap kehidupan sosial. Listrik mati. Mau masak makanan pakai api? Apinya di bakar dimana? Mungkin negara kita bakalan jadi negara maritim secara harafiah alias orang-orang bakal hidup di kapal kaya di Kalimantan. (Itu juga kalau orangnya selamat).

foto source Getty Images photographed by Dorling Kindersley
Pertanyaan saya sekarang, negara mana yang akan menampung orang segitu banyaknya? Belum lagi hubungan diplomatik luar negeri kita nggak semaju negara-negara lain.
Mungkin kita semua menutup mata, atau merasa isu pemanasan global cuma sebuah cerita dari surat-kabar dan media asing yang ga akan berpengaruh terhadap kita. Fakta murninya; Hanya 10 inci kenaikan level air laut sudah cukup untuk membuat Indonesia menjadi Atlantis versi II. Jangan coba-coba berpikir untuk Imigrasi ke Singapura etc, kontinen Asia Tenggara termasuk kontinen high risk selain negara seperti Fiji, Tonga, Louisiana dan Virginia.
Kiamat mungkin sudah terlalu dekat untuk Indonesia. Kiamat Nabi Nuh style. Noah's Ark.
Kalau sudah begitu saya cuma bisa menyarankan beberapa saran;
1. Bikin perahu, makin kuat makin bagus (kalau bisa ada supply makanan kering yang bisa langsung dimakan tanpa dimasak)
2. Belajar bahasa asing; Pilih negara yang aman ditinggali saat pemanasan global sudah mencapai puncaknya, dan tinggalkan Indonesia sekarang juga.
3. Beli sepatu anti air, baju tahan air
4. Belajar navigasi laut, belajar baca map buat laut.
5. Mulai berpikir orang-orang yang baik terhadap kita, nggak semuanya bisa muat di perahu kan?
Semoga berhasil
Subscribe to:
Posts (Atom)