Hitam adalah malam
Hitam adalah warna punggung langit sewaktu mentari tiada
Hitam adalah saat dimana bintang-bintang datang kepada langit
Bercerita dan bermain-main di atas punggungnya
Starla adalah bintang Selatan dimana langit menaruh hatinya
Starla adalah bintang yang paling terang dimana candanya senantiasa menemani langit hingga terang
Starla adalah bintang yang paling gemilang di punggung langit
Dan langit mencintainya karena itu
Saat hitam bertemu Starla
Nafas penghuni langit terhenti
Nyawa manusia yang rapuh terkagum-kagum melihatnya
Starla menyukai malam
Karena hanya dalam malam ia bisa bertemu dengan pemuda itu
Anak manusia nan rapuh
Namun dari bibirnya senantiasa terucap kata-kata indah dan manis tentang Starla
Membuat Starla kian bersinar hingga harus diusir sang Mentari
"Kau yang tercantik, terindah, bintangku yang paling terang,
Ingin kupetik indahmu dan kubawa ke dalam pangkuanku
Tidakkah kau kesepian di atas langit?
Untuk siapakah kau bersinar begitu gemilang?
Sang Bulan terlihat begitu pucat di dekatmu"
Begitulah sang pemuda bersyair, beratus-ratus malam setiap kali ia bertemu Starla
Starla yang begitu murni, hatinya pun jatuh untuk pemuda itu
Namun bagaimanakah caranya Starla menggapai sang pemuda?
Dia begitu tinggi di punggung langit
Dan pemuda itu terbaring nyaman di atas rumput bumi yang hangat
Langit yang begitu sibuk menyangga semesta
Tak sadar Starlanya telah jatuh hati kepada anak manusia
Bulan yang pencemburu
Membenci Starla si bintang Selatan
"Kau mau tahu? Caranya bersatu dengan pemuda itu?" Bisik bulan di malam yang hening
Saat langit tertidur pulas dan bernafas pelan.
Starla yang membuncah karena bahagia
"Bagaimanakah? Tolonglah aku wahai Bulan yang begitu bijak" ucap Starla
Bulan tersenyum tipis, di antara awan-awan putih ia menari pelan, berjinjit-jinjit bagaikan hantu, supaya langit tidak terbangun.
"Lepaskan ekormu dari punggung langit, dan kau akan menerjang bumi, menuju anak manusia itu, menuju cintamu" bisik Bulan.
"Tetapi, bukankah aku tak dapat kembali kesini jika kulakukan itu?" tanya Starla si Bintang Selatan.
"Percayalah, jika kau bahagia di pangkuan pemuda itu, kau tak akan ingat akan kehidupan ini," bisik bulan lamat-lamat dan ia pun menghilang dengan selimut awan putihnya.
Angin berbisik kepada sesamanya, mendengarkan dengan hati-hati.
"Maafkan aku langit, aku mencintai anak manusia itu...Starla memandangi langit yang tertidur, karena langit menyediakan punggungnyalah Starla dapat hadir dalam malam. Kini...Starla melepaskan ekornya dari punggung langit dan seketika ia meluncur jatuh ke dalam bumi.
"Tempatmu bukan disini wahai Starla penghuni langit," ujar Bumi yang terkejut.
"Aku mencintai pemuda itu Bumi, biarkanlah aku lewat."
"Tapi, tidakkah kau tahu? Tamengku ini menghancurkan apa saja yang bukan berasal dari bumi. Dia tidak akan mencintaimu lagi jika ia melihatmu nanti.Kembalilah ke punggung langit." Bumi berujar.
"Tidak, dia akan mencintaiku, selama ini dia selalu ingin membawaku ke pangkuannya" ujar Starla tak gentar menembus tameng bumi.
Namun Bumi yang telah dicipta untuk menjadi kuat. Tamengnya menghancurkan Starla. Sinarnya yang terang meredup. Wajah Starla terbakar, hitam, bopeng dan kusam. Helaian rambut tebalnya jatuh menjadi serpihan debu. Namun ia berhasil mencapai bumi...tergeletak di atas gunung di mana sang pemuda senantiasa bercengkrama.
Kini Starla hanya bisa menunggu, hingga pemuda itu datang untuk melihatnya. Hatinya berdegup-degup penuh harap.
Tak berapa lama pemuda itu tiba di atas gunung. Ia melihat sebuah bongkahan batu yang hitam dan pemuda itu mengernyitkan alisnya.
"Bintang jatuh..." ujarnya tak perduli, lalu melangkah menuju tempat kesukaannya.
Starla terdiam, menunggu agar sang pemuda segera memeluknya.
Pemuda itu terdiam melihat langit, menunggu agar bintang Selatannya muncul.
Hanya dalam harap keduanya bertemu
Begitu dekat namun begitu jauh.
Pemuda itu pun berseru heran, karena tak dapat menemukan bintang Selatannya.
Di putar-putarnya teropong bintang miliknya, dan saat itu dia menemukan sesuatu yang lain,
"Venus!" Ujar pemuda itu..."Selama ini...aku mengabaikan indahmu. Venus si dewi cinta, yang tercantik di jagat raya ini. Aku akan datang lagi esok cintaku." Pemuda itu dengan cepat beralih perhatiannya ke Venus.
Starla hanya bisa menangis pelan, ketika pemuda itu pergi membawa teropongnya pulang.
Dalam sedih Starla berusaha berjalan, kembali pulang ke punggung langit.
Namun setiap kali ia bergerak, bagian-bagian tubuhnya menjadi serpihan abu hingga tak tersisa dan menghilang.
Langit bergemuruh kencang. Angin telah menceritakan semuanya. Tentang cinta Starla, tentang tipuan Bulan dan tameng bumi. Begitu marahnya langit karena kehilangan cintanya. Mentari tak dapat bersinar terang. Selimut hitam langit menyelimuti seluruh jagat semesta.
"Angin, badai," teriak langit, "temukanlah Bintang Selatanku."
Pasukan angin menghantam seluruh jagad bumi, menghancurkan segala yang dilewatinya.
Langit beradu dengan bumi, meninggalkan petir dan kilat dalam argumennya.
Bumi yang kuat berputar, dan berkata, "Dengarlah, aku telah mengatakan kepada Starla apa yang terjadi jika ia melewati tamengku, namun ia tak mau mendengarku. Kau boleh mencarinya dengan angin jika kau mau, tapi itu bukan salahku."
Langit yang kehilangan harap, 7 hari 7 malam dia beradu dengan bumi yang begitu kuat, namun bumi tetap berputar. Langitpun menangis. Serpihan-serpihan tangisnya menjadi hujan deras. Mencari serpihan-serpihan Starla yang hilang ditelan bumi.
Bulan yang terhukum, tak lagi bisa bertemu kekasihnya bumi dan menunjukkan bulat sempurnanya kepada bumi. "Delapan fase!" teriak langit, "kau harus melewati 8 fase hingga kau bisa melihat bumi."
Starla tak pernah kembali ke pangkuan langit. Gemuruh angin adalah saat Langit berusaha mencari Starla. Petir dan kilat saat ia beradu dengan bumi. Hujan kala ia menangis.
Masih cinta langit begitu dalam kepada Starla.
Dalam debu, dalam rindu.