When was it? How was it? Can you feel the touch of life of every thing that you've experienced for the first time.
First movie, first concert, first club, first cafe, first restaurant. First school, first shopping time. First time I bought the shoes. First time I have a friend, first time I cried, first time I laugh, first time I feel happy.
When was it? How was it? Its all feel so distant in memory.
First movie becomes just another movie, first concert becomes just another concert, first cafe becomes just another cafe. First kiss becomes just another kiss. All felt bland and hazy. I'm growing old and boring.
The need to feel, the need to live, the need to feel alive.
I don't want to tone down with time. I don't want to be a silly teenager either. But I want to feel alive. And if imagination, the open-mindedness to feel new experience is there.....(what if?)
Forever Young
A blog for a self remainder, medium of expression, contemplation and memory database for all the information I've encounter
Tuesday, February 17, 2009
Wednesday, February 11, 2009
Dendang Serapah
Kemanakah pergi
Mencari kebenaran?
Kemanakah berjalan
Menyusuri kejayaan?
Akankah Kau cari di jalan-jalan setapak bertabir malam?
Wahai Engkau, Satria-Satria berpakaian lusuh
Adakah hati yang murni di puteri-puteri cantikmu?
Bilakah engkau berhenti menghamba
Pada angsa-angsa anggun itu?
Wahai Engkau Juwita-Juwita perajut mimpi
Adakah tulus di hati pangeran-pangeranmu nan berwajah malaikat itu?
Untuk siapa kau rajut, tirai-tirai cinta itu
Wahai Satria dan Juwitaku?
Mencari kebenaran?
Kemanakah berjalan
Menyusuri kejayaan?
Akankah Kau cari di jalan-jalan setapak bertabir malam?
Wahai Engkau, Satria-Satria berpakaian lusuh
Adakah hati yang murni di puteri-puteri cantikmu?
Bilakah engkau berhenti menghamba
Pada angsa-angsa anggun itu?
Wahai Engkau Juwita-Juwita perajut mimpi
Adakah tulus di hati pangeran-pangeranmu nan berwajah malaikat itu?
Untuk siapa kau rajut, tirai-tirai cinta itu
Wahai Satria dan Juwitaku?
Friday, January 30, 2009
Rembulan dalam Neurosis
Cahaya
Rembulan
Dibalik pelipis mataku
Setiap kali ku pejamkan mata
Ada Bulan Sabit mengintip
Kasih sayang yang tak ada habisnya
Seperti sungai mengalir menuju samudra
Adakah aku pernah menyesal?
Adakah diriku menjadi sombong, jika kukatakan Tuhan benar-benar menyayangiku?
Karena itu terpantul dari hambanya yang berada disekitar-ku
Adakah aku pernah menyesal
Jika kulihat cahaya rembulan setiap kali kupejamkan mata
Rembulan
Dibalik pelipis mataku
Setiap kali ku pejamkan mata
Ada Bulan Sabit mengintip
Kasih sayang yang tak ada habisnya
Seperti sungai mengalir menuju samudra
Adakah aku pernah menyesal?
Adakah diriku menjadi sombong, jika kukatakan Tuhan benar-benar menyayangiku?
Karena itu terpantul dari hambanya yang berada disekitar-ku
Adakah aku pernah menyesal
Jika kulihat cahaya rembulan setiap kali kupejamkan mata
Subscribe to:
Posts (Atom)